10 November, Sepatu

Selasa, 10 November 2009


Sejuta langkah, sepatu menemani hari-hariku hingga usang dan terkelupas. Tahun lalu sepatu ini tak bersamaku,dengan yang lain ia menari. Terpajang di toko sepatu di etalase biru itu. Minggu lalu aku juga kelabu, seperti malam ini yang gelap dan rintik hujan. Menanti detik-detik hari jadiku,kala itu 11-11-88. Makna angka satu yang tak bergerak. Seperti angka 0 yang tetap memiliki komponen makna dan aku juga tetap sama. tak bertambah 1 centi, juga tak bertambah 1mili.Mungkin sama tak bermakna, namun ada cerita haru biru, seperti kemoceng yang hilang datang dan kembali. Berdebu dan tertata rapi, seperti rapinya rambut yang disisir dengan jari.

Aku ingin perubahan, seperti laju-laju kota yang bertambah bising dengan kesesakan dan keramaian. Seperti langit yang selalu ditemani awan dan matahari. Aku ingin bersama dia, tertawa, bermain dan belajar. Meriah mimpi dan cita-cita kami, hingga tua rapuh tak berdaya. Seribu tahun merayakan 1 hari setelah 10 November bersamaku, ceria. Layaknya senyum rumput dan semak belukar yang tak pernah mati oleh alam. Walau kering usang dan tak hijau, tapi tetap berdiri tegap dan bertiup andai.

Dia tahu aku tahu. Dia yang membantuku untuk optimis
dia yang membantuku untuk tersenyum

tapi aku tak mengertii
mungkinn di balik itu ada maksud, bermakna semantik yang tak kuketahui
karena mungkin aku awal dan polos
lemah dan tak tahu
apa itu ketulusan

Untuk dia yang ku ingin ia pelajari bait-bait ketulusan.

Seperti ibu peri yang dengan setia menyihir
Menghapus gelap-gelap kegelapan
abu-abu yang menyamarkan.

Malam ini.
Ku kaitkan makna-makna ketulusan. Rajutan semangat motivasi, dan guratan-guratn asa yang baru. Untuk 1 episode dari periode kehidupanku. Tapi kini aku tahu, aku butuh sepatu baru. yang membawaku ke langit2 baru kehidupan dengan ribuan cita dan tujuan.

Lelaki berbaju biru itu

Senin, 26 Oktober 2009


Langit kelabu, suasana pagi yang masih mengembun. Rona-rona merah matahari berayun-ayun menepi. Aku berdiri di separoh jalan tepian, menyaksikan keributan dan kegaduhan suasana awal hari yang suram. Air muka dan mataku mengembun pagi ini, merah dan bauran emosi dipikiranku. Gejolak peluru merah menumbus rusukku, sakit sedih mengharu biru. Menghitam kepulan asap dari knalpot, sehitam lebam hatiku yang sedih akhir pekan ini. Ku peranjatkan mata, saat melihat seorang tukang koran itu. Baju biru, lusuh abu-abu pekat. Bercak-bercak coklat kelam dari kulitnya menandakan hidupnya yang juga pilu sepertiku. Sandal jepit karet mengelupas, semu tak melindungi kedua kakinya dari sengatan mentari maupun arum terjal panasnya aspal. Kubaca gerak-gerik gesture tubuhnya, lincah, gesit, penuh semangat namun terlihat letih di balik kelopak matanya. Ya, mata coklatnya yang berembun itu.
Pagi ini aku menuju tempat rutinitasku. Ya kampus itu, kampus jaket biru. Berada di tengah kota dan hiruk pikuknya deru modernisasi. Tapi, itu tidak buatku, menurutku itu sebuah jendela yang membawaku ke dunia lain yang tak ku harapkan. Ke jalan cerita yang tak pernah ku tulis dan ku rencanakan. Tak ada dalam peta hidupku, tak ada dalam denah jalanku yang dulu.
Ku kubur mimpiku menjadi seorang guru seperti ibuku. Nyatanya ku gantikan semua itu dengan cita-cita baru yang ku geluti kini. Ku lakukan dengan separoh hati dan setengah jalan. Semua itu karenanya, asanya dan patokan-patokan pemikiran yang klasik menurutku. Ya, beliau saudara jauh ibuku yang menggantikan posisinya. Posisi yang sampai ujung waktu pun tak kan pernah terganti. Aku sekarang bergelut dengan sinyal-sinyal, pasal-pasal, hukum-hukum aturan dan hafalan tentang kehidupan di masyarakat. Sebuah profesi yang banyak membutuhkan tantangan dan sulitnya tuk berdiri sendiri tanpa berlaku kotor. Mungkin itu anggapanku tentang kegiatanku kini, seorang mahasiswi yang akan menjadi calon pengacara. Identik dengan pikiranku yang terlalu negatif tentang itu. Hidup memang tak adil, semuanya hanya menjadi penjara baruku kini.
Masih tergiang, aku marah, merajuk dan tak senang atas pilihan itu. Pilihan yang di atur dan susun rapi seperti domino untuk hidupku. Mungkin sampai hari ini aku tak pernah ramah dan tersenyum pada dirinya. Emosi membakar dan menyelubungi rasa terima kasihku untuknya. Tak ada sedikit pun aku bersyukur, atas aturan dan pilihan beliau. Ya, dia saudara jauh ibuku itu, hingga sampai pagi ini pun aku tetap sama dengannya bertengkar, marah dan saling menghardik. Entah kapan ku akhiri permusuhanku dengannya, dengan orang yang sekarang selalu menjaga dan merawatku itu. Dia adalah tanteku seseorang yang dari lubuk hatiku mungkin aku sayangi.
Tak lama aku tersadar, dari lamunan dan kelamnya banyangan yang menyedihkan itu. Tampak terlihat dari jauh, aku memperhatikan lagi penjual koran itu. Wajahnya tak asing, ku rasa aku pernah mengenalnya namun entah dimana. Topi bundar yang melingkari kepalanya dan sedikit mengalihkan pandanganku. Mencari raut muka yang jelas agar ku yakin bahwa dia adalah sebagian dari hidupku. Tapi ego dan sedihku melenyapkan sebagian memori dan kenanganku. Membekaskan kepenatan begitu berat di otakku. Miris kepala dan pikiranku berusaha mengingat, menerawangi otak-otak sarafku dan lempengan-lempengan halus butiran pikiranku mendeteksi, mencari kutub-kutub yang serasi, menemukan ingatan-ingatan yang nyata. Tapi, semua sama, tetap pikiran kosong dan ku tak tahu siapa dia.
Masih kuperhatikan ia, detik menit berlalu, sambil aku masih berdiri di tepi jalan raya itu. Menunggu jemputanku menuju kampus tercinta dan belenggu cita-citaku. Tak terasa dalam sepersekian menit lamunanku. Akhirnya ku lihat ia mendekat. Ya laki-laki itu, yang sebaya denganku dan kurasa tingginya sama denganku. Ia membawa lembaran koran dan meneriaki pengguna jalan sambil tersenyum. Menawarkan kertas yang digenggamannya. Tumpukan kertas yang menjadi tumpuan hidupnya. Koran-koran apik berwarna putih abu-abu yang tak berarti kelabu.
Sekarang ia berdiri didepanku, masih dengan baju biru yang kelabu itu. Setelah ia melintasi beberapa pengguna jalan, melewati liku-liku jalan yang tak pernah sepi disaat jam sibuk. Melintasi aspal yang panas dan hitam itu. Tak berapa lama aku melihat wajahnya, tapi sebelum sempat aku melihat raut mukanya dan tahu siapa dia. Ia memutar arah, menuju arah jarum jam yang berbeda dengan tempat dimana aku berdiri. Tak kuasa dan tak hanya diam, aku mencoba menyuarakan. Aku memanggilnya, ‘hei, mas’ tunggu!! Seruku. Namun ia tak perduli. Deru langkahnya tak berhenti, memacu langkahku untuk tetap melaju dan mengejarnya. Tapi, ia tetap berlari menembus keramaian dan melintasi trotoar yang ramai itu. Aku tetap mengikuti jejaknya namun, sejenak nafasku terengah. Aku hampir tak bernafas mengejarnya, langkah kecilku berhenti dan melihatnya hilang dalam ingatan dan tatapan
* * *
Rintihan waktu terus bergulir, tapi aku tetap berpikir. Siapa dia? Ya laki-laki berbaju biru. Si penjual koran kelabu. Ia menari-nari di otakku, berpijar dan berbinar di relung batinku. Siapakah dia? Dia laki-laki yang berbaju biru yang selalu berputar di otakku. Mengapa ia pergi dan menjauh, mengapa ia menghilang??? Sepanjang perjalanan waktu ini aku masih mengingat, ribuan langkah t’lah terlewati. Banyak waktu yang telah terganti. Hari demi hari, hingga pagi ini. Semua terulang lagi. Aku melihatnya lagi. Ia duduk di pinggir jalan, di sebuah kursi pemberhentian. Ditepi jalan, di trotoar hitam putih itu. Perlahan aku melangkah, mendekatinya dan bersembunyi dibalik langkahku. Langkah sepatuku yang tak berdetak itu melewati trotoar dan ramainya jalan.
Aku sekarang duduk disebelahnya, tapi ia tetap diam. Merunduk dan memperhatikan lekukan semen trotoar. Ia tak menyadari aku disebelahnya, tapi aku tahu sekarang aku disampingnya. Didekat seorang laki-laki yang mengisi ribuan otakku bermalam-malam lalu. Laki-laki penjual koran yang berbaju biru itu. Tapi, aku juga tahu air mukanya sedih. Matanya berembun dan batinnya terluka.
Jangan pergi lagi dariku, aku tahu sejarahnya, aku tahu sekarang sudut detilnya. Aku tahu semuanya. Mendengar itu, ia terkejut. Raut mukanya berubah kelam dan makin mendayu. Tapi, kini ia tidak bergerak. Air mukanya jatuh dan membasahi pipi pucatnya itu. Terlihat semburan kesedihan yang bergejolak besar, yang saat ini berbaur dan menjadi satu. Kurasa kakinya membeku sore itu, hingga ia tak mampu lagi berlari dan menjauh dariku.
“Maafkan aku Mila”, ucapnya lembut.
“Tak ada apapun lagi kini, semua sudah berlalu. Terlukis dalam koran itu juga kala itu. Sama dan mungkin berulang, tapi semua takkan mengembalikan apapun” ucapku renyah.
Air mata hanya yang ada. Mengitari dan menghiasi ucapannya.
Tapi, aku marah. Berang dan gusar. Mendelik aku menatap matanya, sambil aku tetap bercerita dan berkisah. Membuat air matanya terus mengalir.
Ya, semua karena sejarah itu. Malam-malam kelam setelah kepergian cahaya hidupku. Aku kehilangan arah, jalur dan kompas hidupku. Juli 4 tahun lalu, menyedihkan, menyisahkan sayatan dan luka mendalam disini. Di kedua rongga dada dan batinku, tepatnya di pusat otak semangat dan pikiranku. Masih dalam ingatan, saat hari terakhir kami mengantarnya di peristirahatan terakhirnya. Di tempat belenggu biru, di peraduan dan persimpangan terakhirnya. Di bawah awan-awan hitam yang menjulang pepohonan yang rindang dan hijaunya rerumputan. Ya, disana di makam yang berpetak-petak itu. Sebuah batu yang berdiri sendiri, ditemani bunga-bunga mewangi dan prasasti namanya. Tangisan menderu disebelahnya, disamping gundukan dan tumpukan tanah merah yang basah itu. Ya nama ibuku yang tertulis di batu nisan itu. Jika saja kau tidak membawanya pergi dan jika saja kau menuruti keinginanku. Hingga kini mungkin aku masih melihat senyum mukanya. Senyum ibuku yang menenangkan.
Ia, menangis perlahan, cucuran air embun mata mengairi, melewati liku-liku air mukanya. “Aku memang Dimas”, ucapnya. “Dimas yang dulu selalu bersamamu, Dimas yang mengukir hampir di setiap detik waktumu, Dimas temanmnu, Dimas cintamu dan Dimas yang kau benci. Dimas yang menghancurkan hidupmu”, tuturnya halus dan serak beradu dengan alunan kebisingan sore itu.
Aku, terdiam mendengar ucapannya. Menyayat hatiku melihat orang yang kukasihi menyalahkan dirinya, dan ku rasa itu juga menghancurkan hidupnya.
Aku tahu kecelakaan mobil 4 tahun silam, antara dirinya dan ibuku tercinta mengubah segalanya. Malam kelabu saat ia pergi bersama ibuku, yang mengukir derita. Saat itu dia dan bersama ibuku hendak menemuiku ditempat yang berbeda, dan akhirnya membawa ibuku ke tempat yang berbeda pula. Naif memang, terkadang aku menyadari itu bukan salahnya. Aku sadar sepenuhnya semua telah dituliskan, ya dituliskan ditangan ibuku. Memang seharusnya begitu, dan sesuai jalur yang dipetakan. Garis takdir yang memang berlalu di jalan sebagaimana mestinya.
Tapi, semenjak aku kehilangan dia. Membuat aku membencinya, menghardiknya, dan ingin rasanya aku pun membunuhnya. Membunuh namanya dalam hidupku. Saat aku melihat ibuku pergi, ia pun pergi. Tak ada sama sekali aku tahu ia dimana, tak seorang pun tahu. Tapi, yang aku tahu ia bersedih dan menghilang sehingga aku berpikir ia berkhianat. Aku merasa ia yang harus bertanggung jawab atas itu, karena mungkin dia merasa bersalah dan menghilang dari hidupku.
“Maaf pun tak ada gunanya Dimas,” ucapku berlalu.
Tapi, ia hanya menangis. Menunduk dan jatuh lebih dalam kesedihannya.
Mungkin memang tak ada maaf untuknya. Aku pun berlalu meninggalnya dan melupakannya. Menghapusnya dalam ingatanku hinga kini. Menguburnya dan mengirim namanya ke tempat lain yang tak mungkin ku temukan, hingga akhirnya aku mampu memperbaiki hidupku karenanya.
Luka disni masih ada ternyata. Saat ibu pergi, aku benar-benar sendiri. Tanpa dirinya maupun tanpa 1 senyuman dibibir tipisku hingga kini. Karenanya aku tinggal bersama saudara jauh ibuku. Ia yang menjagaku, membimbingku, mengaturku, dan memilihkan jalan hidupku. Mengubah segala detil diriku menjadi kehendaknya, dan menguasai hidupku. Menggantikan semua yang berwarna-warna menjadi kelabu tanpa lagu ceria sedikit pun. Mengukirkan molekul-molekul kehidupan yang suram, menggariskan luka-luka dan mengubur mimpi dan asaku. Keinginanku untuk menjadi seorang yang ceria dan berharga, menjadi seorang pemimpi yang berjaya. Dan kini aku seperti upik abu, seperti boneka dalam bingkai.
Lama aku menjalani hidup suramku, ya semua itu karena Dimas. Sahabat kecilku, teman kecilku dan juga menjadi kekasihku kala itu, mengubah petak-petak hidupku. Tapi, tak ayal aku pun menyesal. Menyalahkannya, dan menghardiknya bukan pikiran yang bijak, hingga kini aku tahu. Ternyata, setelah ibuku pergi. Ia menghilang dan aku tak pernah tahu lagi kabarnya. Kini aku baru tahu ternyata, tak lama beberapa tahun setelah itu ia kehilangan orang yang dikasihinya pula. Pada malam tragedi yang membawa anggota keluarganya, peristiwa kebakaran membuat malam-malam Dimas menjadi biru, dingin dan sepi. Hingga akhirnya membuatnya jatuh terpuruk ditepi jalan dan menjadi seorang penjual koran.
Menangis hariku jika ku ingat, mimpi janji dan cita-cita kami yang tak pernah terjadi. Di taman dulu kami tertawa, bercerita tentang mimpi dan harapan itu. Sebijaknya aku harus bersyukur dengan hidupku kini, aku masih bisa menyelesaikan S1 ku, merasakan bangku kuliah yang tak pernah ku syukuri. Berbeda dengan Dimas yang mengukir hidupnya dengan hidup mandiri, sendiri dan sepi. Seharusnya kata maaf itu bukan darinya, tapi dari bibir tipisku ini.
“Maaf Dimas, dan cobalah tersenyum untukku satu kali saja”. Satu kata yang selalu ku simpan dihatiku untukknya. Ya dia, lelaki yang berbaju biru itu.(arin)

*TAMAT

Sia.....sia....

Selasa, 20 Oktober 2009

aKu tak pernah berpikir
sebenarnya apa itu tujuan
apa itu makna kebaikan
tadi aku tak bermaksud apapun
cuma ingin berekpresi
Melampiaskan apa yang kurasakan
membagi kebahagian
tapi apa ternyata aku salah
tak ada maksud dan makna dasar aku yang salah mengartikan

sedih
marah
terdiam
ku menangis
apa aku terlalu detensif
tak berpikir dan terlalu peka

tau
dan tak
semaunya
hanya berbicara saja

mengalir mengembun
dan menghilang
selanjutnya ku putuskan untuk terdiam

Cerpen NAsi KePel Cinta


NASI KEPEL CINTA

Aku berdiri sendiri, di sebuah deretan bangunan yang sederhana. Bangunan itu tampak berubah, dulu saat aku masih muda dan hijau, ku ingat betul bentuk jejak kakiku bermain disana. Bangunan yang mengukir sejarah dalam kehidupanku. Kini mungkin tampak lebih kecil. Lapangan juga bertambah sempit dan pagar yang dulunya tinggi dan selalu sulit ku panjati. Kini berubah menjadi tembok-tembok pagar yang pendek dan mungkin mudah ku lompati. Sebuah ruang sederhana, paling pojok dari deretan koridor dan sebuah taman kecil di depannya. Ada kisah klasik merdu disana. Ini bangunan tua, entah berapa lama umurnya. Yang ku tahu sudah hampir kurang lebih sembilan tahun aku tak pernah kemari. Bukan sombong atau lupa, tapi tak ayal waktu menggilasku dengan ribuan dan teroran aktivitas baru. Berderu senang hatiku kini, saat ku pandangi, sudut-sudut dan sisi bangunan ini. Semua mengandung kenangan, di bangunan sederhana, tua dan tak tampak angkuh dari lainnya.
Tujuan pertama ku tertuju pada sebuah tiang bendera yang kokoh tinggi berdiri. Semilir hati mengingat, dulu kami biasa menaikan bendera di upacara hari Senin. Lucu sedikit ku ingat, bagaimana reaksiku dulu. Saat ku gerakkan kaki melangkah tegap maju. Mengibarkan bendera merah putih. Laju terus ku ingat saat itu tiang itu begitu tinggi. Tapi kini tampak sederhana dan sedikit memudar dan berkarat. Selanjutnya ku alihkan kedua matakku di tengah lapangan, disebuah titik putih. Tengah dan berhadapan lurus dengan tiang bendera. Dulu disana biasanya berdiri seorang pemimpin upacara. Berteriak dan berseru memimpin jalannya upacara. Syukurlah, aku masih ingat dengan suara itu, seorang temanku yang sedang mencari ilmu diluar kota. Dia adalah Doni, ketua kelas kami yang cerdas dan bintang kelas. Ku ingat betul dulu sifatnya yang polos, dan sederhana bahkan kadang sedikit kaku. Sekarang aku bangga berdiri disini, karena ini adalah sekolah dasar yang membantuku mengeja dan berucap. Mengajari bagaimana awal kehidupan, mengajariku untuk tetap bersemangat. Kemudian membekaskan dihatiku ribuan kenangan manis bersama sahabatku. Sekolah Dasar Negeri 143 Palembang, sebuah SD yang sederhana di daerah pinggiran kota. Bagitu sederhana, tapi begitu mewah dan berkesan dihatiku. Khususnya dihati kami semua.
Semilir angin berhembus, mengibaskan rambutku, menenangkan hatiku dan membantuku kembali mengingat. Disini, dilapangan ini dulu kami sering bermain, dengan semua teman sekelas. Bermain bola kaki bahkan yang paling berkesan adalah bermain bola kasti. Dulu disini masih rumput, dengan tanah kering sehingga jika hujan mengotori sepatu kami dengan lumpur. Bercak coklat hitam dan kelabu menghiasi sepatu butut itu. Didalam memoriku juga tersimpan kenangan lain, dulu biasanya kami juga bermain kasti di lapangan sebuah komplek perumahan. Komplek yang tak jauh dari sini. Di sekitar kompleks itu terdapat anak Sungai Musi dan ada juga menara kapal disana. Setiap sore kami bermain bola kasti disana, lalu terkadang kami memutari jalan-jalan perumahan yang sepi dengan sepeda kami yang sederhana.
Aku menatap lurus, melihat cahaya siang sanur meratapi, serpihan udara yang dilintasi. Menguap asap-asap panas yang menyesakkan pengap di udara. Aku merasa begitu sendu siang ini. Lemah gemulai tak perdaya, melawan asa dan ego perasaan ini. Perasaan yang selalu menuntut dan memaksa, membuat aku merintih melangkah menatap laju jalanku. Aku melangkah, tapi mataku berusaha menoleh ke belakang. Mengharapkan sedikit senyum darinya yang memanggilku. Menyapaku dan mengukirkan senyuman dan masa baru di lingkungan hidupku. Sama seperti dulu, aku melihat senyum manisnya. Tawa dan keceriannya begitu membahana membuat senyum ini selalu ada di relung hati. Tak berapa lama tiba-tiba aku tersadar, ada seseorang yang meraihku. Seorang gadis manis sahabatku, teman SD-ku.
“Masih mengingat dia?” tanya gadis itu sambil menatap poros lapangan.
“Tak sedikitpun aku bisa berhenti,” ucapku pelan sambil melamun datar.
“Waktu tak dapat kembali, itu hanya sebuah kenangan”, jawabnya lagi menatap mataku dan menenangkanku.
“Sama juga sepertinya yang takkan pernah kembali untukku.”
“Kau tahu itu, Ran. Itu sudah 9 tahun yang lalu. Kau ingat jawaban Kepala Sekolah, kemarin. Maaf nak, itu sudah lama sekali. Kami tidak bisa menemukan data-datanya. Tak ada satu pun nama teman kita anggkatan 2001 ada disini. Berhentilah!!! Ucap Clara, kali ini ia menyakinkan aku dengan memegang bahuku. Ia ingin menyakinkan aku bahwa semua itu hanya mimpi.
“Tak usah menghiburku, aku tau kau juga masih berharap kan?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.
“Apa maksudmu?’ Tanya Clara singkat.
“Doni, jawabku.
“Doni cuma masa lalu, hanya sekedar cinta monyet”. Aku dan dia tidak ada satu hal apapun.” Clara menunduk, menatap ujung jari kakinya. Menyoroti serpihan-serpihan debu di lapangan itu, aku tak bisa melihat matanya yang kelam dan sendu itu. Kurasakan getar rasa yang berbeda dari gerak-geriknya saat ku sebut nama Doni, didepannya.
“Masa lalu, tapi semuanya masih tersimpan baik di hati kita semua. Benarkan? Jujurlah akan perasaanmu Clara. Aku tahu, kau sahabat terdekatku kini. Saat terakhir Doni mengirimkan pesan singkat itu, ku lihat cahaya senyum dimatamu.
Mendengar itu, Clara terdiam. Perlahan ia melangkah menjauh. Ya, meninggalkanku sendiri disini.

***
Sore ini kami melanjutkan pencarian, ya mencari Tyas. Gadis yang selalu mengisi relung jiwaku selama ini. Angkuh egois memang, menyembunyikan semua dengan liku dan saduran yang membutakan. Sebenarnya kami bukan hanya mencari Tyas, tetapi mencari rumah teman-teman SD kami. Aku, Angga, Clara dan Sita dan Rian. Crew Celebek 143 (CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali). Tujuan kami sama, menyambung tali silaturahmi. Menemukan bermacam-macam nama lama yang sudah tertandai dihati kami semua. Di bulan ramadhan, masa putih bersih dan mewangi untuk menebar kebaikan. Dengan nama Reuni mungkin, atau hanya sekedar Buka Bersama untuk melepas rindu.
Rumah pertama, di rumah Maya. Kami berlima menyapa dan bertanya. Tapi semua nihil. Tak kami temukan Maya, kata sang tuan rumah Maya sedang bekerja. Sebelah kanan, rumah berwarna cerah mewah dan sepi. Sedikit berubah, bertambah anggun dan indah. Berderet kisi-kisi emas dan pintu, jendela yang tegap. Gapura depan yang kokoh, dengan pagar berlinang dan berdiri angkuh. Berbaris mobil dan pot-pot bunga berjajar rapi, sedikit penuh sesak dengan pohon dan rerumputan. Itu rumah Tedi, teman kami yang bertubuh tinggi, tegap dan gagah.
Kami mengetuk dan kami temukan rumah yang serasi padu padan. Dari semua perabotan dan hiasan rumah. Cantik dan nyaman dipandang mata. Senyum Tedi menyapa kami, menyeruak menyambut ramah teman-teman lama. Ramai seisi rumah suara-suara gaduh riuh penuh canda. Menyenangkan mengingat moment yang lucu dan haru. Tapi, dalam diri ini sedikit mengusik, mengapa hati ini begitu melankolis. Tak berpikir logis atau realita. Masih beranjak dibenakku tentang Tyas, aku tahu, mungkin Tedi tahu dimana dia. Tedi adalah mungkin orang terdekatnya, Tyas adalah kisah klasik Tedi. Mungkin menurutku Tedi adalah cinta pertamanya. Disela-sela sepi aku berusaha menanyakan kepada Tedi tentang Tyas. Tapi jawaban Tedi buram, dan tak pasti. Dia tak bisa berjanji menemukan Tyas dan membawanya kembali kemari.
Kami pamit, tujuan selanjutnya adalah rumah Sandra, gadis berambut keriting tipis. Teman yang berkarakter unik dan lucu. Lama menyusuri Jalan Menara 8, mengitari dan mencoba mengingat dimana letaknya. Semua teman mempercayakan posisi rumahnya padaku. Tapi jujur aku tak begitu ingat, disini banyak yang berubah, rumah-rumah semakin padat, menghambur menghiasi tepian jalan.
“Dimana rumahnya?’ tanya Angga yang tampak lelah. Ia menghela nafas panjang dan menghampiriku dengan motornya.
“Aku tak begitu ingat, sudah lama aku tak kemari,” jawabku jujur dan terus berusaha mengingat.
“Telpon aja Ran,” ucap Clara memberi usul.
“Aku lupa, menyimppan nomor handphonenya,” jawabku jujur sambil melepaskan helm di kepalaku.
“Bodoh,” tambah Sita.
“Maaf, kemarin saat aku menelponnya untuk minta nomor handphone Tyas, tanpa sengaja aku lupa. Kemarin aku lagi sibuk saat menelpon”.
“Yah, kalau itu mah pasti gara-gara Tyas, jadi lupa semua”, celetuk Clara.
“Sungguh, aku tak bermaksud begitu” ucapku menjelaskan.
“Sudah hubungi saja, Tyas. Gampang kan? Tanya di mana Sandra” usul Rian yang sudah berdiri disamping motornya.
“Nomor Tyas nggak aktif,” jawabku lesu.
“Ya sudah, kalau begitu. Kita pergi, tutur Angga dan kembali menghidupkan motornya.
***
Esok harinya aku kerumah Tedi, mencari Tyas lagi dan lagi. Aku tak ikut rombongan Crew Celebek hari ini. Mereka mengagendakan banyak rumah yang hendak dikunjungi, mencari dana untuk Reuni. Mungkin sama tujuanku dengan mereka, mencari teman SD, tapi Tyas agak berbeda.
Aku bersama Tedi kembali mencari rumah Sandra. Kali ini mudah ditemukan, aku baru tahu ternyata. Tedi teman satu kampus dengan Sandra. Aku sadar egois diriku, membuat aku tak menemukan tujuanku. Sandra kali ini tak ada dirumah, ia masih dikampus. Sedikit putus asa, tapi tak membuatku berhenti. Kami kembali pulang dengan tangan hampa. Lirih dan sembilu kurasa tak ada hasil. Perjalanan menuju rumah Tedi, terasa begitu jauh dan melelahkan.
Rumah Tedi, tak kuasa ku melihat ada teman-teman yang tak ingin kutemui. Crew Celebek. Angga, Clara, Sita dan Rian mereka di rumah Maya. Aku malu, sembunyi tertutup di balik udara yang tak mengaburkan. Aku terpaksa mencari alasan supaya tidak ikut crew hari ini.
Melihatku, Angga berang. Ia menuntutku, menganggap aku berbohong. Mengatakan aku pergi dan ada urusan keluarga. Padahal aku pergi mencari Tyas, mencari sesuatu yang tak pasti. Sama halnya Clara, ia berontak dan sepuasnya menghardikku. Mengapa aku berbohong, padahal aku tak ingin menggangu mereka dengan semua ceritaku tentang Tyas. Mungkin juga kadang aku sedikit merasa malu.
Suasana gaduh, Maya mencoba melerai pertengkaran mulut kami. Tedi juga menepis jarak antara aku dan Angga. Ia sadar sifat egois kami tak pernah berubah. Rian pun sama, menepih dan menenangkan. Tapi Clara tetap marah, tak bisakah aku menyampingkan Tyas dan mencari dunia baru yang kukerjakan ini. Yang mungkin lebih menyenangkan dan membawa cahaya-cahaya positif dihidupku. Begitu emosi karena merasa dibohongi, hingga tak sadar bahwa ini bulan puasa. Astagfirullah,
“Semua kendali ada padamu Randi, kau yang menyimpan nomor handphone anak-anak. Sebenarnya apa yang kau lakukan, nomor handphone tidak aktif, kemudian pergi?’ Pasti ini semua gara-gara Tyas. Bisakah 1 menit saja, focus untuk acara kita?’ tutur Clara perlahan, yang kali ini bisa meredam emosi.
Aku pergi melangkah menjauh, menuju tepian jalan. Suasana jalan tak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang lewat. Tapi kini aku melangkah menghindari mereka. Tapi semua tak hanya diam, Clara memanggilku, teman yang lain menyusul.
***
Sehari berlalu, tengat waktu pelaksanaan Reuni membahana. Dana dan teman-teman sudah sebagian dikumpulkan, tapi Crew Celebek terpisah. Masih marah, benci dan berang. Tak menyatu, mencari jalan sendiri. Sita sedih, ia menangis. Clara menjadi dingin, dan Angga hanya sesekali berbicara. Tak ada senyum, seperti sebelumnya. Untuk kali ini aku merasa benar-benar kehilangan senyum itu, rasanya sakit jauh lebih sakit dari hal yang kubayangkan.
Beriring waktu bergerak, H-1 berlalu dengan sedikit persiapan yang matang. Suasana yang dulu panas sedikit mendingin. Tapi belum nyaman seperti sebelumnya untukku, hingga hari pelaksanaan hadir, aku masih terdiam. Crew Celebek yang lain tertawa, ceria bersenda gurau dengan teman lama. Mengukir kisah baru yang lebih berkesan dan bermakna.
Suasana ramai, kami kumpul di depan SD tercinta. Dengan agenda acara yang tertata. Setelah mengunjungi panti asuhan, kami menuju makam almarhum sahabat kami tercinta. Bento, sapaan yang selalu kami ingat. Ia meninggal saat dibangku SMA, karena kecelakaan. Sedih membutakanku dan menyakitkan ku kala itu, karena dia sahabat terbaikku.
Berjalan demi waktu, kami menuju rumah yang menjadi tempat untuk buka bersama. Terhibur hati ini, setelah melakukan hal-hal terbaik. Saat dipanti asuhan, kurasakan iba, saat melihat tampilan sorot mata yang lugu, polos dan lucu. Tak bertepi, sedikit hati ini harusnya bersyukur apa yang kumiliki saat ini mungkin tak dimiliki anak-anak dipanti asuhan. Sadarkah aku akan hal itu, terlalu banyak aku menuntut kepada-Nya. Ini dan itu, banyak hal yang kuinginkan tanpa ada satu hal yang ku syukuri. Sahabat terbaik seperti mereka, aku sia-siakan, hanya karena marah dan emosi. Bahkan apakah mungkin aku melupakannnya, rasa sedikit adil mungkin yang ku peroleh jika aku merasa sedih dan bimbang saat ini. Tak ada satupun yang menemani, sama halnya seharusnya aku bersyukur kepada-Nya. Ku tahu aku tak dekat, mungkin menjauh dan seiring melupakannya. Tuhan Sang Maha Pemberi Segala. Yang ku ingat hanya Tyas dan Tyas. Ingin ku merenovasi diri tapi, sulitnya hati dan aplikasi membuatku terbuai, hanyut dan melupakan tanggung jawabku.
***
Pukul 5 sore, kami beramah tamah di beranda rumah. Suasana kembali ceria, dan kini telah kuperbaiki semua. Aku kembali ceria, tertawa bersama Crew Celebek, tak ada kaku dan sedih dengan sesama. Aku minta maaf dengan Clara dan Angga, tak seharusnya aku egois, sehingga aku melupakan mereka. Merupakan tanggung jawabku, sebagai panitia penyelenggara Reuni Akbar ini.
Saat yang sangat mengibur, sesi sharing dan games bersama. Semua bercerita masa-masa dulu. Sepatah dua kata, moment yang tak terlupa. Ari cowok berambut panjang menyisir poni di kening. Begitu santai dan ramah saat bertutur. Ia menceritakan kisah cinta pertamanya, yang tidak kesampaian. Ada juga Sandra yang bercerita ia menemukan cinta pertama duduk di Sekolah Dasar, dan kami semua tahu siapa dia. Seperti juga Angga dan Maya yang dulu SD pernah berstatus berpacaran. Senang melihat senyum-senyum itu kembali.
Clara mengambil perhatian kami, ia berbicara menjelaskan sebuah permainan unik. Kata berantai, menghubungkan satu kata yang saling berkaitan dengan cara estafet. Aku sedikit paham, dan mengerti penjelasannya. Permainan yang cukup unik. Tapi satu hal yang paling unik, hadiah untuk orang yang paling cepat dan banyak merangkai kata. Adalah satu suapan nasi kepel cinta dari seseorang yang disukai. Menarik bukan? Semilir ada angin hembusan mendamaikan hati ini. Sedikit terhibur dan penasaran, siapakah yang mendapatkannya. Aku sedikit berkhayal, lumanyan jika mendapatkan itu dari Mia. Dia cantik dan baik. He..he..he… tuturku dalam hati.
Dugaanku benar, permainan yang unik. Bisa memperat dan mengakrabkan kami kembali. Kemudian benar saja dugaanku. Mia yang jadi incaran, semua ingin mendapatkan hadiah nasi kepel cinta darinya. Tapi, aku bingung kenapa Clara tidak tertarik! Dia tidak serius bermain hanya menjawab seperlunya. Apakah dia cuma menginginkan itu dari Doni. Huh!. Entahlah, ini sebuah teka-teki perasaan.
Kurasakan tak nyaman, ada hal lain yang berubah. Beberapa menit kami bermain. Ada seseorang yang ingin kutemui hadir. Ya benar ada Tyas, tapi sedikit terluka, ia datang bersama Tedi. Gunda dihatiku kembali mengusik, merenda harapan yang tak pasti itu lagi. Sesungguhnya mungkin aku ingin seperti Clara, ia menyukai Doni yang jauh disana. Tapi ia berusaha tak mau berharap dan menutupi semua itu dengan senyuman. Ia bercanda bersama teman-teman bersuka cita, melupakan sedikit keinginannya. Menatap dan menata masa depannya dengan baik, tak mau hidup dimasa lalu. Jujur aku tak yakin aku bisa seperti itu, kadanng aku berpikir apakah aku laki-laki yang bodoh dan terlalu lemah.
Permainan usai, dan aku yang menjadi pemenang.
“Huh……. Nasi kepel cinta dari Tyas.”
“Mengasyikan!!
Lama aku menunggu waktu berbuka. Mungkin inilah buka yang paling membahagiakan bagiku. Senyum-senyum merantai hati aku sendiri. Clara hadir kembali ia membawa piring yang tertutup rapi. Pasti itulah nasi kepel cinta. Nasi yang dikepel, yang dibentuk hati dan diberi hiasan hati. Mungkin ada ayam, telur atau daging. Huh….. Sedap, tuturku, apalagi ada Tyas” tuturku sambil senyum-senyum sendiri.
Aku tak sabar, semua berkeliling memperhatikan. Sepertinya semua orang juga tak sabar sepertiku. Wajah celingak-celinguk ingin tahu. Clara ditengah sambil tersenyum puas. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan?
Beduk berkumandang, waktu berbuka. Setelah semua menghirup es buah, mereka kembali lagi berkumpul.
Mataku ditutup, katanya ini sebuah kejutan.
Wah…….. benar-benar menakjubkan. Aku hanya menurut dan sebelumnya ku dengar nama Tyas di sebut. Oh…. Maafkan aku Tedi tuturku dalam hati.
Kurasakan 1 suapan nasi putih, tak berasa manis, pedas atau pun aroma bawang. Hanya terasa nasi putih, dan aroma kecerian dari teman-teman. Semua tertawa cerah, ramai dan gaduh. Besorak-sorak, mungkin mereka iri menurutku. Simpul kecil dari bibir ini saat ku habiskan 1 suapan nasi putih ini. Berharap setelah membuka mata ada senyuman manis Tyas disana.
“HA” aku terkejut, saat ku buka mata hanya ada Rian yang tertawa puas. Membawa sepiring nasi putih saja, yang dikepal-kepal dengan tangan.
“ HUEEEk…..! Ingin muntah, melihat kondisi ini. Diluar dugaan, mengecewakan, dimana Tyas?’ aku mencari-cari dan kulihat Tyas. Ia tertawa, ia berada tak jauh dariku.
Aku kecewa dan ingin marah, tapi melihat tingkahku semua makin tertawa. Hanya aku yang masem-masem sendiri. Mengoceh sendiri, dan begitu sangat marah kepada Clara. Dia mempermainkanku.
Sambil sedikit tertawa Clara menjelaskan, permainan ini dibuat dengan tidak sengaja. Tanpa persiapan, hanya mengisi waktu luang. Dan soal hadiahnya, nggak bisa Tyas yang memberikan nasi kepel cinta, kan ini bulan Ramadhan “pamali” yang begituan. Jadi kita putuskan diganti dengan Rian. Itu kan nasi kepel cinta dari kami semua Randi, ucap Clara tersenyum manis.
Sejauh mana menikmati kebahagian dan kebersamaan kami. Membuat aku sangat terhibur, apalagi dengan keberadaan Tyas. Waktu berlalu dengan canda dan rasa yang begitu berkesan dihati.
Tapi buatku dengan Tyas belum selesai, aku ingin bicara banyak. Menanyakan kabarnya dan mendengar suaranya lagi. Saat aku bisa memperjelas dan akan kutanyakan semuanya.
Santai dan sederhana aku bertanya, tapi Tyas tak merespon baik, ia sekarang tinggal di Yogyakarta. Ia pulang hanya sebentar untuk mengunjungi sepupunya. Kemudian di hari raya dia akan kembali lagi.
Aku begitu kecewa, Tyas mengucap kata terakhirnya, yang membuatku sedih. Walaupun saat ini ada rasa untukmu, tapi semua tak ada tujuan dan kejelasan. Tyas memiliki kehidupan lain di Yogya, tanggung jawab dan keluarganya dan satu hal yang paling ia inginkan dia tak ingin menyakitiku. Sungguh dan kini aku mengerti, aku harus melepasnya pergi.
***
Semua kembali sepi, hanya ada Crew Celebek disini. Dirumah Clara. Rian, Angga dan Sita. Kami berkumpul membicarakan misi selanjutnya Crew Celebek. Halal bil halal, silaturahmi bersama di hari raya.
Aku duduk di teras rumah, teman lain bercanda sambil OnLine di ruang tengah. Aku sepi, memikirkan ucapan Tyas kala itu. Merenung dan mungkin menyesali diri. Tak berapa lama, Clara kembali hadir, ia tersenyum sambil memperlihatkan sms dari Doni, isinya cerita mengenai acara buka bersama dan sedikit salam untuk teman semua.
“Dia takkan kembali sebelum kuliahnya usai. Aku juga tak tahu apakah aku masih ingin menunggunya. Tapi, yang ku tahu saat ini hidupku bahagia, karena ada teman-teman semua yang ku sukai. Ada kalian semua disisiku, mungkin ini sudah cukup. Lalu yang ku tahu, antara aku dan dia, memang hanya sebuah cerita. Tak ada apapun yang berarti, hal yang sama dan tak ada perubahan.
Clara tesenyum simpul, menyadarkan aku betapa tulus dan sederhana senyum itu tercipta. Hanya karena kebersamaan kami semua, memiliki sahabat-sahabat terbaik telah membuatnya bersyukur dan bahagia.
Cinta yang hilang datang dan pergi, tapi seharusnya aku bersyukur dengan apa yang ku miliki saat ini. Persahabatan dan keluarga yang mungkin tak dimiliki orang-orang yang selalu memburu cinta. Terima kasih ya Allah, atas kiriman paket kebahagian yang selalu Engkau berikan, tuturku sambil kembali masuk ke ruang tengah. Aku datang kembali menemukan kebahagianku! Sama seperti nasi kepel cinta waktu itu, tak butuh banyak hal berlebih yang tak bermanfaat. Nasi putih dengan cinta dan ketulusan jauh lebih bermakna.

***
Selesai.



Embun, Cahaya dan Partikel Debu



Pagi hari
Kala negeriku masih baru
Masih muda
Merangkak dan berembun

Secerah cahaya ada
Saat senyum ada pada dirinya
Cahaya
Lambang kebahagian
Embun
Lambang ketenangan
Debu
Lambang kesusahan

Saat itu
Gejolak bangsa menderu
Menderita dan menjalari negeri
Virus yang menggerogoti sistem
Tanah yang mengubur asa dan cita

Inilah yang terjadi
Disni dan saat ini
Di tempat bumiku berpijak
Di sudut lorong rumahku
Di peringatan kebangkitan bangsaku

Ku ingat
Seruan-seruan
Ajakan-ajakan
Tuk bangun dan berjuang
Tuk berdiri dan tersadar

Membawa mata pisau
Lalu ku gotong secerah harapan
Di balik tirai kehidupan
Tuk secuil senyum dan tawa
Tuk mata rantai
Dan aliran kehidupan masyarakat bumi
Tuk nafas
Bumi dan ibu pertiwi

PUISi


Ada Dua Cinta

Pilihan itu satu
Tapi aku tahu ada dua
Dua di antara satu
Dia yang aku pilih lebih dulu
Atau dirinya yang selalu ku rindu

Ingin ku hentikan rasa ini
Karena ku tahu dia ada
Dia yang memiki cinta dalam hidupku
Tapi bukan cinta dalam hatiku

Tuntun dan bimbing aku
Jendela mana yang ku tuju
Dirimu atau dirinya
Satu kasih yang ku tunggu

Kebangkitan Nasional Sama Dengan Kebangkitan Ekonomi Masyarakat.




Wujud Nyata dari Peringatan Kebangkitan Nasional yaitu dengan Kebangkitan Ekonomi Kreatif dengan Cara Membeli Produk dalam Negeri

Seiring dengan krisis global yang melanda berbagai penjuru dunia membuat jejak-jejak keluh dan kesah di berbagai kalangan. Salah satu contoh yang menarik adalah dalam pengembangan ekonomi di Indonesia. Ekonomi Indonesia membutuhkan banyak sisi perbaikan agar membawa dampak positif bagi rakyat.
Dalam peringatan 1001 tahun hari Kebangkitan Nasional inilah, wujud rasa nasionalisme yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan mutu perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat baik untuk dikembangkan agar terwujudnya gerbang ekonomi yang sejahtera. Jika perekonomian rakyat baik maka akan membawa dampak yang sangat positif. Senada dengan hal itu dalam Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuturkan untuk memberdayakan ekonomi “Wong Cilik”. Selain sektor ekonomi yang sangat berpengaruh ada sektor lain yang patut diperhatikan yaitu sektor pendidikan. Pendidikan yang bermutu akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan kokoh. Tidak dapat di pungkiri faktor yang mendukung meningkatnya mutu/kualitas sektor ekonomi adalah sektor pendidikan. Sumber daya manusia yang cerdas, kreatif dan inovatif akan mampu membentuk sektor ekonomi yang baik pula. Tapi hal ini perlu dukungan dan partisipasi dari masyarakat tentunya. Bukan hanya untuk masyarakat ekonomi saja. Melainkan dari berbagai lapisan mayarakat yang memiliki peran penting. Salah satunya sistem yang di terapkan oleh Mendag Mari Elka Pangsetu dalam programnya yaitu dengan cara memproklamirkan Kebangkitan Ekonomi Kreatif “Aku Cinta Indonesia” ke seluruh Indonesia. Program yang mencanangkan agar masyarakat seluruh Indonesia membeli, memakai dan menggunakan produk/jasa dari dalam negeri. Produk/jasa dari hasil kreatif perekonomian bangsa Indonesia sendiri juga memiliki kwalitas yang baik, sehingga dengan hal ini mampu membawa angin segar bagi sistem perekonomian.
Dengan mengkomsumsi karya hasil bangsa sendiri akan membantu bangkitnya perekonomian Indonesia. Produsen yang bekerja akan terus memproduksi dan mendistribusikan jasanya ke konsumen, sehingga produsen akan terus berkarya dan bukan tidak mungkin jasa tersebut akan mampu di ekspor ke luar negeri. Tapi proses ini membutuhkan kerja keras dan banyak waktu agar produk Indonesia dapat berkwalitas sehingga mampu bersaing dengan produk asing. Tapi fakta lain yang diperoleh bangsa ini masih jalan di tempat pada sistem pro kapitasme yang telah merusak perekonomian rakyat. Suatu sistem dimana hasil perut ibu pertiwi nyaris habis diboyong keluar negeri.
Hal inilah yang sangat disayangkan, oleh karena itu himbauan untuk lebih cinta tanah air dan cinta produk Indonesia tentunya adalah salah satu cara yang cukup efektif. Peran serta masyarakat dari segala lapisan sangat dibutuhkan agar mampu membawa para sistem perekonomian yang sejahtera. Ternyata hal sederhana ini adalah salah satu wujud nyata dan mudah yang dapat kita lakukan untuk bangsa Indonesia. Wujud dari semangat Hari Kebangkitan Nasional agar bangsa ini benar-benar bangkit dari ketepurukan dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.