Untuk Dosen Kami Tercinta
Drs. Siti Salamah Arifin
Untuk Cendramata dari Mahasiswa
Seanggun Bunga
TerataiSeharusnya pada beliau kami bercermin, memjadikannya contoh dan panutan. Ingin sesungguhnya saat aku bercermin, aku bisa menjadi seperti beliau. Beliau begitu anggun, santun bersahaja. Pada mulanya ku pikir sama, datar dengan aluar yang serupa. Tapi kami sedikit merasa berbeda. Pertama kali bertemu, menjadikan sosok ingatan di relung jiwa beliau begitu tepat. Awalnya terdengar desas-desus, tapi mungkin kami tak percaya. Hanya sebuah klise yang tak beraturan, yang menjadikan takut dan menjadikan sikap kami tak objektif.
Beliau adalah seorang perempuan tangguh, berdedikasi dan dispilin. Ingin kutuliskan sebuah untaian bunga rampai untuk panutanku, dosenku itu. Pembimbing dan pengajar yang menjadi arah dan contoh model untuk kami bercermin. Mungkin aku lambangkan seperti bunga teratai: seorang pemimpin perempuan yang religius, tingkah lakunya anggun dan santun. Sementara itu, independensi pemimpin kategori ini juga setara dengan kemandirian teratai yang mengambang anggun di atas permukaan danau. Mmenjanjikan keteguhan sekaligus keteduhan. Karakteristik yang mendominasi adalah agung, jujur, suci dan independen. Seperti bunga teratai berwarna yang anggun yang bersemi di atas air. Menghiasi dan mewarnai hari ini.
Awal pertemuan kami dengan beliau, di awal perkuliahan yang sepi. Suasana menyambut hari raya. Saat semua orang berkemas bersiap kembali ke kampung halaman. Ruang-ruang kosong di kelas ini. Kami hanya bersepuluh, bisa di hitung dengan jari. Rasa jenuh dan penat melihat orang dan sosok-sosok yang itu-itu saja. Tak ada keributan dan keramaian yang bising seperti biasa. Semua teman-teman berada jauh, mereka menyelesaikan tugas di desa. Ya, kewajiban mahasiswa kuliah kerja nyata. Tak ayal suasana perkuliahan tak seperti biasa aneh dan tak sama. Namun, dari semuanya seiring juga mendukung sepinya ruang-ruang kosong itu. Beberapa pembimbing atau dosen lain juga belum mengaktifkan diri. Mungkin benar, awal diminggu hari kuliah perdana, semuanya belum aktif seperti biasa.
Tapi kutemukan beliau hadir tepat waktu, tak sedetikpun terlewatkan. Pukul 8, berdentang ku pikir. Aku mengetuk pintu kelas, ku lihat sosok beliau siap memberikan kuliah. Displin tepat dan akurat, aku tau akan hal itu kepribadiaan beliau. Ku dengar dari teman sejawat, atau kakak yang lebih senior. Beliau begitu cermat, rajin dan tekun. Datang tepat waktu dan selalu serius dalam belajar selalu jadi bahan pertimbangan untuk memberikan penilaian. Tak ada istilah comot atau asal saja, benar-benar mengisi apa yang ada sesuai hasil. Mungkin banyak nilai merah, atau sedikit yang berwarna cerah. Untuk nilai C atau A sejujurnya ada di tangan kami. Tak ada revolusi atau hitung kancing istilahnya. Ku dengar kabar lain bahwa tak ada istilah memperbaiki, apa yang kami berikan tetap itu yang kami dapatkan. Huruf C pada awal dan seterusnya mungkin. Tapi tak kuharapkan begitu ingin ku lihat huruf A sesungguhnya. Mungkin bukan cuma aku saja, tapi semua mahasiswa.
Tak ada istilah lain, sepertinya. Semua benar-benar cerdik, membina mengajar dengan runtun, akurat. Terkadang walaupun 3 sks yang begitu panjang, kami habiskan dengan mendengar dan belajar. Ku temukan beliau begitu berdedikasi akan profesinya. Tak ada celah untuk kami menghindar, hanya sebait kata tepat dan sebenarnya. Terkadang di sela-sela beliau memaparkan, di tambahinya sedikit nasihat dan mengisahkan pengalaman mengajar dan kisah yang kami jadikan contoh dan pembelajaran. Bagaimana beliau membimbing dan membina muridnya atau mahasiswanya. Satu hal yang masih ku ingat cerita beliau di perkuliahan waktu itu. Bagaimana kisah menghadapi, muridnya yang enggan bicara. Enggan berkomunikasi, tapi beliau harus melaksanakan kewajiban. Memberikan nilai untuk muridnya sedikit ragu dan bimbang. Memberikan tes ujian untuk bernyanyi pada muridnya. Padahal beliau tahu muridnya enggan berbicara apalagi mendendangkan sebuah lagu. Ku dengar dan ku perhatikan kisah itu, bagaimana beliau menghadapi cela dan berhasil menyelesaikan tugas sebagai guru yang harus membina dan membimbing muridnya. Ajaib, akurat, cermat dan cerdik, revolusi pemikiran yang cerdas. Seperti suri tauladan yang nyata dan sesungguhnya.
Aku tak tahu, mengapa kami baru mengenal beliau. Di awal semester 5, kami menjadi mahasiwanya. Kenapa tidak sejak awal, pada masa awal perkuliahan. Dulu aku tak tahu beliau, ternyata memang seorang dosen yang cermat dan displin dengan prestasi baik yang diraihnya. Jika lebih awal, mungkin motivasi ini akan lahir lebih dulu. Aku ingin seperti beliau menjadi dosen yang disiplin, tekun dan menjadi panutan.
Setitik masa yang ku ingat, pagi itu kami mid semester. Ku lihat beliau begitu cerah dengan senyum menyapa dan sikap santun bersahaja. Mengawasi kami, sambil memegang sebuah buku dan membaca. Aku duduk di kursi depan, sehingga mampu ku perhatikan. Suasana kelas yang tenang, saat ujian. Tak ada ramai dan kebisingan di sana- sini. Tak ada celah untuk tak adil maupun berdiskusi. Semua berjalan seperti apa adanya dan semestinya. Rangkaian kisah yang menyajikan sebuah kedisplinan dan tanggung jawab yang dijalankan sebagaimana seharusnya, sebagai dosen dan atau seorang mahasiswa.
BUNGA RAMPAI
Selasa, 26 Januari 2010
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.36
0
komentar
Jika Bahasa Indonesia di Pandang Sebelah Mata
Bahasa adalah sebuah simbol atau sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu pentinganya peranan bahsa dalam kehidupan bermasyarkat. Seiring perkembangannya bahasa Indonesia terus berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan dibawah arus perkembangan pengunaan bahasa di era globaliasi. Di ruang lingkup kecil dan keluarga masyarakat kita menggunakan bahasa daerah atau bahasa ibu untuk berkomunikasi dan pada ruang lingkup yang luas dan bersifat resmi digunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Seiring dicetuskannya Bahasa Melayu-Riau sebagai Bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 lalu, perkembangan bahasa terus meningkat. Tentunya juga pada perkembangan bahasa Indonesia yang makin berkembang dan beradaptasi, bahasa daerah pun tetap memiliki peranan dan jabatan yang penting dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Meninjau pada pemakaian bahasa Indonesia yang terjadi di kalangan masyarakat. Terjadi fenomena-fenomena negatif di tengah masyarakat kita. Misalnya banyak orang Indonesia yang dengan bangga memperlihatkan kemahirannnya menggunakan bahasa Inggris walaupun mereka tidak mengusai bahasa Indonesia dengan baik. Tak sedikit orang yang malu jika tidak bisa berbahasa asing, tapi adakah yang merasa malu dan kurang jika tidak menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Belum lagi pemikiran orang-orang yang menganggap remeh bahasa Indonesia, dan tanpa disadarinya seseorang tidak mau mempelajari bahasa Indonesia dengan serius. Pemakaian bahasa Indonesia hanya pada lingkup resmi, misalnya saat acara-acara yang bersifat resmi, atau di lingkungan civitas akademika. Kesimpulannya banyak orang yang menguasai bahasa asing dengan baik tetapi bahasa Indonesia dengan apa adanya. Bahkan apa yang terjadi jika seseorang yang sibuk dan bangga menggunakan bahasa asing sehingga melalaikan bahasanya sendiri. Belum lagi masyarakat terpaku pada tuntunan pergerakan era globalisasi yang membelenggu kehidupan masyarakat. Semua ilmu pengetahuan dan kajian Iptek banyak dalam bahasa asing (Bahasa Inggris) sehingga sangat wajar jika memprioritaskan bahasa tersebut. Bahasa asing memiliki andil dan tempat tersendiri sebagai bahasa internasional. Pengunaan bahasa asing yang masuk dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia juga membawa efek negatif. Faktanya yang terjadi bukan hanya dari kebahasaannya saja yang diserap, tapi budaya dan kebiasaan dari luar juga mempengaruhi budaya di Indonesia. Oleh karena itu, pentingnya kesadaran untuk bersikap cermat dan mengarahkan perkembangan bahasa tersebut ke arah yang positif. Kemudian kita perhatikan saat ini pemakaian bahasa “gaul” diseputar kehidupan remaja. Belum lagi masalah penggunaan bahasa Indonesia yang masih kental akan dialek bahasa daerah yang juga berpengaruh terhadap bahasa Indonesia.. Hal ini dilatarbelakangi pada penggunaan Bahasa Indonesia juga berkutat dengan penggunaan bahasa daerah, hampir setiap masyarakat Indonesia menggunakan bahasa daerah masing-masing untuk berkomunikasi. Hal ini pula membuat fenomena pemakaian bahasa Indonesia semakin dipertanyakan. Bukan tidak mungkin karena tuntutan hal ini bahasa Indonesia akan dipandang sebelah mata. Satu pertanyaan mampukah Bahasa Indonesia bertahan di tengah arus fenomena kebahasaan yang terjadi di Indonesia.
Semakin kurangnya minat dan perhatian terhadap bahasa, akan menjadi masalah utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahasa memiliki peranan penting, demi perkembangan dan kemajuan masyarakatnya. Sebuah bahasa perlu di hargai dan di jaga kelestariannya agar jumlah penutur dari suatu bahasa tertentu akan tetap stabil. Namun jika fenomena dan permasalahan terhadap bahasa terus terjadi, maka bukan tidak mungkin berdampak negatif pada Bahasa Indonesia. Gejolak perkembangan berbagai pemakaian bahasa dalam era globalisasi mampu mengikiskan eksistensi suatu bahasa jika masyarakatnya tidak menghargai atau menjaga bahasanya. Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional, yaitu sebagai lambang kebanggaan nasional. Bahasa Indonesia melambangkan nilai-nilai budaya, sebagai jati diri bangsa di mata dunia internasional. Oleh sebab itu pentingnya membina rasa kebanggan untuk mengunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia juga merupakan lambing persatuan karena bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia mempersatukan beragam suku, budaya, etnik dan adapt istiadat. Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa negara dan bahasa resmi, karena digunakan di acara dan segala kegiatan kenegaraan. Kemudian bahasa Indonesia digunakan sebagai alat penghubung yang bersifat resmi pada sistem pergerakan pemerintahan.
Masyarakat yang sadar akan pentingnya peranan bahasa dalam melakukan berbagai kegiatan tertentu. Oleh karena itu, dilakukan kebijakan yang menjaga dan melestarikan bahasa. dilaksanakan perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengolahan dan keseluruhan dalam mengatasi masalah bahasa itu sendiri. Lembaga dan instansi kebahasaan terus menjalin kerjasama untuk menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia. Melakukan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan minat dan kemampuan berbahasa. Misalnya secara rutin melakukan seminar, penyuluhan mengenai pengembangan bahasa Indonesia, atau kegiatan perlombaan secara rutin pada peringatan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Hal ini merupakan wujud akan rasa nasionalisme terhadap bahasa Indonesia.
MI
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.35
0
komentar
Esai
Januari 27, 2010 oleh nenggelisfransori | Sunting
Esai Logis
3 Objek Wisata Favorit di Visit Musi 2008
Sumatra Selatan atau juga yang dikenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya saat ini sedang mencanangkan Program Visit Musi 2008. Program dari pemerintah yang memperkenalkan pariwisata di kota tersebut. Terdapat banyak jenis objek wisata disana dan semuanya sudah di persiapkan untuk menyambut para wisatawan. Berberapa objek wisata yang cukup banyak menarik minat wisatawan yaitu Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Selain memberikan panorama yang indah letaknya pula cukup strategis yaitu di jantung kota Palembang. Oleh karena itu ketiga objek wisata ini menjadi tempat terfavorit yang dikunjungi oleh wisatawan.
Jembatan Ampera merupakan sebuah jembatan yang indah dan megah. Dimalam hari suasana kota Palembang terlihat indah dengan tatanan lampu hias yang mengitari setiap sudut Jembatan Ampera. Jika kita melihat dari Benteng Kuto Besak akan terlihat sebuah jembatan yang mengagumkan mata. Suasana malam yang dingin dengan hembusan angin dan kita juga bias melihat beberapa kapal yang melintasi Sungai Musi. Jembatan Ampera merupakan jembatan yang memiliki sejarah bagi bangsa Indonesia. Selain itu jembatan ini merupakan pusat aktivitas bagi masyarakat kota Palembang. Hal ini berdasarkan artikel yang dikutip dari (http://www.visitmusi2008.com/artikel.php? a=det&id=31) :
Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia yang dibangun pada tahun 1960 sebagai bayaran Jepang kepada Indonesia atas penjajahannya dulu. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini dibuat oleh Jepang. Dahulunya bagian tengah dari jembatan ini bisa dinaikkan dan diturunkan bila ada kapal yang akan lewat.
Jembatan Ampera merupakan salah satu tujuan wisata dan jembatan ini pula sebagai lambang Kota Palembang. Jembatan yang menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia saat dijajah oleh Jepang. Jembatan yang sampai saat ini masih berdiri dan menjadi jalur transpotasi utama di Kota Palembag.
Benteng Kuto Besak dalah sebuah bangunan yang kokoh dan masih berdiri di tengah kota Palembang. Letaknya yang berada di dekat Jembatan Ampera dan memiliki daya tarik sebagai objek wisata. Benteng Kuto Besak adalah salah satu objek wisata yang memiliki sejarah bagi Kota Palembang dan sangat mempengaruhi budaya dan kehidupan masyarakat Kota Palembang hal ini dikarenakan sejarah berdirinya benteng tersebut. Benteng tersebut dibangun oleh zaman sebuah kesultanan yang ada di kota Palembang. Hal ini sesuai dengan artikel yang dikutip dari (http://www.visitmusi2008.com /artikel.php?a=det&id=31) :
Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besar diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803.
Peran serta Pemerintah Kota Palembang dalam perbaikan sarana dan prasarana Benteng Kuto Besak inilah yang mendukung terlaksananya Benteng Kuto Besak sebagai salah satu tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Selain bisa menikmati indahnya Jembatan Ampera dan Sungai Musi, wisatawan pula disuguhi berbagai kesenangan yang menarik, yaitu pengunjung bisa menikmati makan-makanan khas Kota Palembang yang tersedia di salah satu restoran atau rumah makan terapung yaitu Restoran Legenda.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah satu tempat penyimpan benda-benda bersejarah yang ada di Kota Palembang sedangkan museum lainnya adalah Museum Balaputradewa di Jl. Sudirman Km. 5,5 Palembang. Lokasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah di tepi Sungai Musi (dekat Jembatan Ampera). Letaknya yang juga strategis ini pula yang menarik minat para wisatawan untuk mengunjunginya. Selain kita dapat melihat keindahan Jembatan Ampera kita dapat pula mengunjungi Benteng Kuto Besak yang letaknya dekat dengan museum ini. Palembang merupakan salah satu kota yang menjadi saksi penjajahan yang terjadi di Indonesia oleh karena itu banyak benda-benda bersejarah yang tersimpan didalamnya. Latar belakang Kota kuno ini juga sangat menarik, karena dahulu kota ini menjadi pusat peradaban oleh karena itu hal ini sesuai dengan artikel yang di kutip di (http://www.visitmusi2008.com/artikel. php?a=det&id=31) “Di museum SMB II terdapat arca-arca kuno diantaranya Ganesha Amarawati dan Budha serta peninggalan kuno, termasuk dari era Sriwijaya“. Benda-benda bersejarah tersebut tersimpan rapi dimuseum Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai bukti peradaban zaman dulu di Kota Palembang. Zaman dahulu terdapat peradapan yang tersembunyi di era Sriwijiya, hal ini pulalah yang menjadi penyebab Sumatra Selatan dikenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya.
Sumatra Selatan menyimpan banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Selain ketiga tempat yang disebutkan diatas masih banyak lagi oebjek wisata alam yang patut untuk disinggahi. Ketiga objek wisata diatas merupakan saksi dari peradapan zaman dahulu yang ada di kota Palembang selain daya tarik yang dimiliki objek wisata tersebut memang sangat mengagumkan dan letaknya pula yang cukup strategis.
DAFTAR PUSTAKA
(http://www.visitmusi2008.com/artikel.php?a=det&id=31) Diakses tanggal 12 Juni 2008
MT MENULIS
15 Juni 2008
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.34
0
komentar
ARGUMENTASI
Proses Realisasi Faktor Penunjang Kemajuan Pendidikan
Proses realisasi pemenuhan faktor pendukung pendidikan harus di penuhi guna terciptanya sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan persainngan bebas yang terjadi di era globalisai. Saat ini sangat dibutuhkan individu yang berkualitas baik dalam segi akademik maupun mengenai keterampilan lainnya. Faktor-faktor pendukung tersebut harus terpenuhi dengan para aktivitasnya bersikap seoptimal mungkin guna terciptanya sistem pendidikan yang baik. Bagaimana proses realisasinya didalam dunia pendidikan? Sebuah pertanyaan yang harus kita jawab, yaitu dengan bekerja sama dan saling mendukung.
Guru merupakan salah satu pelaku pendidikan dan peran guru sangatlah besar bagi seorang peserta didik. Jika guru tersebut bekerja dengan maksimal dan melaksanakan peran sertanya sebaik mungkin sebagai seorang guru maka muridnya akan tumbuh dan berkembang menjadi siswa yang pintar dan terampil. Tetapi saat ini banyak pula oknum guru yang mengecewakan salah satu contohnya dalam dunia pendidikan adalah kurangnya motivasi dalam menulis. Padahal guru bertugas untuk membimbing dan mengarahkan siswa. Terkadang untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Padahal jika kita sadari banyak hal yang diperoleh seorang guru saat ia mengajarkan ilmu pada murid-muridnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Yunis (2008) “Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan”. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Hal inilah yang perlu kita perhatikan dalam proses pemenuhan faktor-faktor penunjang kemajuan dunia pendidikan. Selajutnya guna memberikan proses pemahaman terhadap siswa, bagaimana agar seorang guru mampu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan peka terhadap siswanya. Seorang guru benar-benar meletakkan potensinya didalam bidang yang ia tekuni dengan sebaik mungkin, hal ini sesuai dengan pernyataan Suyono (2002) Kegiatan utama dari pendidikan adalah untuk membawa pembelajaran pada suatu kemungkinan. Proses pembelajaran ini membutuhkan partisipasi dalam perannya, pelajar melalui penggunaan Bahasa Indonesia sebagai suatu arti dari komunikasi verbal. Ini adalah salah satu contoh tetapi jika kita tinjau dari segi positif masih banyak pula guru yang tetap berperan dan terus berpastisipasi pada perannya sehingga meningkatkan mutu pendidikan kita. Guru juga harus mampu meneliti dan menelaah kondisi keadaan siswa. Ia harus mampu mengetahui bagaimana memberikan setiap detik siswanya untuk belajar dan menjadi terampil. Salah satu contoh adalah pernyataan dari Yuliarti (2007) “Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis puisi adalah pemanfaatan majalah cetak sekolah. Majalah cetak merupakan salah satu jenis majalah sekolah yang dapat dimanfaatkan dalam rangka menunjang proses pembelajaran menulis, khususnya menulis puisi di sekolah”. Dinyatakan bahwa dalam proses pembelajaran ada metode lain yang harus dilakukan agar sistem pembelajarannya tidak monoton.
Pemenuhan kebutuhan faktor pendukung lainnya adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Jika kita perhatikan hal ini pula sangat penting, karena berperan sebagai objek yang harus digunakan dan dimanfaatkan. Apalagi saat ini dengan seiring berkembangnya zaman yang difasilitasi dengan bermacam-macam teknologi baru dalam proses pembelajaran. Harus di penuhi agar kegiatan ini terealisasi dengan baik. Salah satu contohnya berdasarkan pendapat Iswara (2008) “Tidak diragukan lagi bahwa komputer tidak hanya diperlukan oleh orang berdisiplin ilmu komputer saja. Komputer bahkan telah menjadi kebutuhan pribadi setiap individu. Idealnya, satu komputer untuk satu orang”. Tetapi untuk secara cepat memfasilitasi diri dengan berbagai sistem teknologi cukup sulit, karena banyak faktor yang harus dipenuhi. Padahal kita tahu sarana dan prasaranalah yang berperan amat penting dalam proses pembelajaran.
Kita tidak sepenuhnya harus menuntut penenuhan faktor pendukung kemajuan pendidikan hanya dari sesosok guru yang mengajar, bukan hanya kepala sekolah, maupun pemerintah tetapi dukungan dari berbagai aspek kehidupan. Tetapi saat ini kita harus sedikit kecewa dan menundukkan kepala saat melihat hasil dari proses pendidikan selama ini. Salah satu contoh yang mengecewakan adalah pernyataan dari
Kemalawati (2008) ‘‘berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi, telah terbukti adanya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN. Dugaan kecurangan dalam UN merebak karena ada sekolah yang tingkat kelulusannya mencapai 100 persen. Sebaliknya ada sekolah yang angka kelulusannya nol persen”. Sebenarnya apakah yang menjadi penyebab polemik yang satu ini? Apakah sarana dan prasana yang tidak terpenuhi? Atau alasan lain yaitu karena pemerintah yang terlalu beresiko meningkatkan nilai kelulusan, atau seorang guru yang kurang mendidik anak muridnya ataukah siswa itu sendiri yang tidak memiliki motivasi dalam belajar? Sebenarnya yang harus kita lakukan bukan mencari siapa penyebab dari masalah ini. Kita harus bisa menyelesaikan masalah tersebut secara bersama-sama agar dunia pendidikan kita menjadi lebih baik.
Tetapi tahukah Anda? Bahwa hal tersebut dikarenakan para aktivis pendidikan kita tidak meletakkan peran sertanya diposisi yang seharusnya. Masih ada kekurangan yang harus di perbaikki dan terus dibenahi secara akurat. Kurangnya pemenuhan kebutuhan faktor pendukung kemajuan pendidikan pun tidak bisa terealisasi dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Iswara. 2008.‘‘Penelitian E-Learning sebagai Ranah Penelitian Pendidikan Bahasa di UPI Kampus Sumedang ‘‘.http://jurnal-sastra.blogspot.com/search?q=pendidikan.
Diakses tanggal 12 Juni 2008.
Kemalawati, D. 2008. “Jujurkah Dunia Pendidikan Kita” http://pakguruonline. pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Suyono. (2002) “Bahasa Indonesia dalam Pendidikan dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Di Sekolah”. http://www.malang.ac.id/jurnal/fs/bani/2002a.htm. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Yuliarti, T. 2007. “Pemanfaatan Bianglala dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas IV ‘‘.http://jurnaljpi.wordpress.com/category/bahasa-indonesia/. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Yunis, T. 2008. “Bila Guru Mau Menulis” http://pakguruonline.pendidikan.net,/bila_ guru_mau_menulis.html. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.33
0
komentar
Esai
Faktor Pendukung Kemajuan Pendidikan
Pendidikan di Indonesia saat ini sedang mengalami revolusi. Setiap unsur-unsur yang berperan di dalamnya sedang bergejolak menghadapi perannya masig-masing. Peran yang harus dijalanan dengan baik agar terciptanya seorang yang pelajar yang cerdas dan berkepribadian luhur. Menyadari pentingnya pendidikan bagi setiap manusia adalah salah satu langkah untuk memajukan dunia pendidikan. Saat ini hal yang harus dilakukan adalah bagaimana menghadapi masalah yang sedang mendera dunia pendidikan kita. Oleh karena itu kita harus memahami bagaimana pendidikan yang telah kita jalankan selama ini. Apakah sudah sesuai dengan apa yang kita kehendaki yaitu membawa kemajuan bagi dunia pendidikan. Pemahaman yang jelas tentang konsep pendidikan yang telah kita ikuti mampu memberikan masukan positif bagi kita maupun orang lain untuk mengembangkan mutu pendidikan.
Sistem pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar terciptanya sumber daya manusia yang bermutu dan berakhlak mulia. Peran serta dari segala aspek kehidupan sangat di perlukan bukan hanya dibebankan kepada siswa. Peran serta guru, kepala sekolah, orang tua dan pemerintah pula sangat di perlukan untuk mendukung terciptanya mutu pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang baik dan mampu menghasilkan peserta didik yang berkualitas adalah pendidikan yang memenuhi segala kebutuhan dari berbagai aspek. Misalnya kebutuhan akan sarana dan prasarana pendidikan. Tetapi jika di telaah lagi bagaimana sarana dan prasarana yang ada di sekitar kita. Masih banyaknya sekolah-sekolah yang ada didaerah tertinggal kurang di perhatikan bahkan tidak tersentuh. Aspek lain yang harus di penuhi adalah kualitas seorang guru atau tenaga pengajar. Semakin baik seorang guru memaksimalkan potensinya dalam belajar maka ia akan mampu menjadi seorang guru yang berpredikat baik. Seorang guru bukan hanya harus memiliki rasa perhatian dan pengertian kepada siswa tetapi seorang guru yang cerdas dan terampil. Seorang guru harus pandai dalam bidangnya dan bidang-bidang lain yang dekat dengannya selaku seorang praktisi pendidikan. Contohnya seorang guru harus pandai menulis sebuah karya tulis maupun karya ilmiah karena seorang guru harus membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat. Ini adalah salah satu contoh kecil kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Tetapi masih ada pula seorang guru yang tidak mahir dalam bidang kepenulisan ini. Padahal guru memiliki banyak keahlian karena sudah banyak pengalaman yang telah dialami didunia pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yunis (2008) “Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan”. Jika guru memiliki profesionalitas yang bagus dibidangnya dan memiliki keterampilan yang baik maka peserta didik akan berperan baik pula dalam melaksanakan tugasnya.
Proses pendidikan merupakan suatu kegiatan yang menunjang siswa agar menjadi siswa yang berperan dalam tugasnya sebaik mungkin. Hal lain juga dinyatakan oleh Suyono (2002) Kegiatan utama dari pendidikan adalah untuk membawa pembelajaran pada suatu kemungkinan. Proses pembelajaran ini membutuhkan partisipasi dalam perannya, pelajar melalui penggunaan Bahasa Indonesia sebagai suatu arti dari komunikasi verbal.
Selanjutnya hal yang harus kita perhatikan adalah pemenuhan kebutuhan pembelajaran dari semua siswa. Bukan hanya dalam segi sarana dan prasarana saja. Siswa membutuhkan perhatian yang cukup dari orang tua maupun guru dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh siswa, misalnya dari pergaulan. Misalnya di lingkungan sekolah di bentuknya kelompok belajar, maupun ekstrakulikuler. Inilah salah satu contoh kecil pergaulan siswa. Ketelitian seorang guru misalnya dalam pembentukkan konsep ekstrakulikuler yang telah dirancang tersebut mampu memberikan manfaat yang baik bagi siswa. Contoh lain yang bisa kita lihat adalah berdasarkan pendapat Yuliarti (2007) menyatakan bahwa salah satu metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis puisi adalah pemanfaatan majalah cetak sekolah. Majalah cetak merupakan salah satu jenis majalah sekolah yang dapat dimanfaatkan dalam rangka menunjang proses pembelajaran menulis, khususnya menulis puisi di sekolah. Di bentuknya program tersebut guna meningkatkan kreatifitas siswa.
Perhatian selanjutnya kita tujukan kepada dampak era globalisasi yang mendera siswa khususnya pelajar. Seiring kemajuan zaman dan teknologi saat ini membuat siswa harus benar-benar berhati-hati dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, apakah berdampak buruk bagi dirinya atau tidak. Bagaimana tidak seorang siswa tidak bisa terbuai dengan berbagai teknologi yang baru dan canggih. Kebutuhan atas hal tersebut benar-benar diperlukan oleh siswa, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Iswara (2008) “Tidak diragukan lagi bahwa komputer tidak hanya diperlukan oleh orang berdisiplin ilmu komputer saja. Komputer bahkan telah menjadi kebutuhan pribadi setiap individu. Idealnya, satu komputer untuk satu orang”. Sebagai seorang individu kita tidak mampu menolak dan meninggalkan teknologi. Contoh lainnya dapat dilihat pada pemakaian dan pengguna internet yang makin meluas. Secara tidak langsung internet memberikan dampak negatif dan posisitif bagi penggunanya.
Pernyataan diatas mengenai pemaparan aspek-aspek pemenuhan pendidikan. Namun hal lain yang harus kita koreksi adalah hasil dari proses pendidikan yang telah kita lalui. Faktanya lajur pendidikan kita tetap sama bahkan mengalami kemunduran hal ini dapat dilihat dari pernyataan Kemalawati (2008) “penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi, telah terbukti adanya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN. Dugaan kecurangan dalam UN merebak karena ada sekolah yang tingkat kelulusannya mencapai 100 persen. Sebaliknya ada sekolah yang angka kelulusannya nol persen”. Ini adalah contoh dari hasil proses pembelajaran yang mengecewakan.
Pemenuhan kebutuhan dari faktor-faktor pendukung yang diperlukan tersebut sangatlah penting karena untuk menciptakan sistem pendidikan yang baik. Diperlukannya dedikasi yang baik dari berbagai pihak agar tidak terjadi kemunduran dalam dunia pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Iswara. 2008.‘‘Penelitian E-Learning sebagai Ranah Penelitian Pendidikan Bahasa di UPI Kampus Sumedang ‘‘.http://jurnal-sastra.blogspot.com/search?q=pendidikan.
Diakses tanggal 12 Juni 2008.
Kemalawati, D. 2008. “Jujurkah Dunia Pendidikan Kita” http://pakguruonline. pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Suyono. (2002) “Bahasa Indonesia dalam Pendidikan dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Di Sekolah”. http://www.malang.ac.id/jurnal/fs/bani/2002a.htm. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Yuliarti, T. 2007. “Pemanfaatan Bianglala dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas IV ‘‘.http://jurnaljpi.wordpress.com/category/bahasa-indonesia/. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Yunis, T. 2008. “Bila Guru Mau Menulis” http://pakguruonline.pendidikan.net,/bila_ guru_mau_menulis.html. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.33
0
komentar
Kado Kecil untuk HMPSBI
Bahasa adalah ciri dan identitas suatu bangsa dan Negara. Bahasa menjadi lambang nilai-nilai budaya dan menjadi jati diri suatu bangsa. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang menyatukan seluruh suku dan etnis yang ada di seluruh nusantara. Berdasarkan hal inilah suatu himpunan mahasiswa yang cinta akan bahasa Indonesia dan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan bahasa Indonesia. Berpikir, membuat satu wadah organisasi, tercetuslah ide untuk memiliki sebuah organisasi kemahasiswaan yang mewadahi seluruh kegiatan mahasiswa dalam lingkup program studi mengenai Bahasa Indonesia. Hal ini telah mendorong para mahasiswa angkatan 81’ (sebagai pendiri) untuk mewujudkan lahirlah HMPSBI (Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia) dan sejarahnya. HMPSBI merupakan sebuah wadah organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia yang berada di lingkungan FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Universitas Sriwijaya, Palembang. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sendiri, di FKIP Unsri sudah berdiri sejak tahun 1961. Akan tetapi HMPSBI baru berdiri secara resmi pada 10 November 1985, di Palembang.
Lambang HMPSBI adalah lambang Universitas Sriwijaya di dalam sebuah lingkaran yang bertuliskan Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah dengan latar bermakna biru. Lambang ini bermakna bahwa HMPSBI di bawah naungan FKIP Unsri sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, informasi dan seni. Organisasi ini diharapkan dapat merespon setiap fenomena yang terjadi di lingkungan civitas akademik yang berfikir secara logis dan sistematis dengan keluasan berpikir dan keefektifan bertindak, sehingga dapat ‘memakmurkan’ setiap komponen yang berada di naungannya. Anggotanya adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsri, yang terbagi menjadi 3 golongan yaitu: anggota biasa, anggota kehormatan dan anggota luar biasa. Anggota biasa yaitu mahasiswa, anggota kehormatan yaitu pelindung, penasehat, pembimbing dan alumni sedangkan anggota luar biasa adalah anggota biasa dan anggota kehormatan yang berpartisipasi aktif serta bekerja sama terhadap HMPSBI.
Visi HMPSBI yaitu sebagai salah satu pusat pengembangan wawasan, peningkatan sikap religius, ilmu dan integritas kepribadian mahasiswa, melalui sikap optimis menuju masyarakat kampus yang demokratis, adil dan sejahtera. Kemudian misi yang di emban HMPSBI adalah memberikan kontribusi berupa pengembangan SDM masyarakat kampus. Mewujudkan mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan birokrat kampus dan menjadikan HMPSBI sebagai perekat ukhuwah serta kesatuan bagi mahasiswa FKIP pada umumnya dan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah khususnya.
HMPSBI menjalankan kebijakan program kerja pada 1 tahun masa jabatan ketua umum, salah satu kegiatan yang baru dilaksanakan yaitu pada peringatan Bulan Bahasa. Pada 28 Oktober 2009, civitas akademik HMPSBI melaksanakan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra dengan tema “ Mengangkat Peran Bahasa dan Sastra Lokal dalam Pembelajaran Bahasa untuk Mengembangkan Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotor”. Sebuah acara forum ilmiah dengan pembicara utama Prof. Dr. Arif Rahman (Pakar Pendidikan dan Bahasa dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta). Kegiatan ini bertujuan untuk mensejajarkan pengajaran Bahasa dan Satra dalam lingkup pendidikan. Kegiatan serupa yang dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2009, yakni mahasiswa HMPSBI pada peringatan Bulan Bahasa yaitu melaksanakan serangkaian perlombaan yaitu lomba pidato Bahasa Indonesia, lomba membaca puisi, cerpen, dan musikalisasi puisi bagi mahasiswa, pelajar di daerah Palembang dan sekitarnya. Hal ini dilakukan demi memupuk rasa cinta dan kebanggaan akan Bahasa dan Sastra Indonesia itu sendiri dikalangan civitas pendidikan. Tak berhenti sampai disitu semangat untuk berbahasa dan mengembangkan sastra. Di dalam program kerja HMPSBI juga dalam waktu dekat di agendakan melaksanakan kegiatan Pekan Sastra, guna memperingati hari lahir HMPSBI yang jatuh pada 10 November 2009. Pekan Sastra ini merupakan wujud dari cinta kasih yaitu sebuah kado kecil yang manis untuk Bahasa dan Sastra.
MI
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.32
0
komentar
RESENSI BUKU

Judul Buku : Proses Kreatif Menulis di Media Masa
Nama Penulis : Roni Tabroni
Tahun Terbit : 2007
Penerbit : Nuansa
Jumlah Halaman : 128 + iv halaman
Menulis Merupakan proses kreatif yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian. Namun pada saat ini proses tersebut terkadang untuk menggali potensi diri dan mencurahkan waktu serta pikiran sulit dilakukan bagi orang yang tertarik dalam dunia kepenulisan. Penulis pemula terkadang merasa ide dan gagasannya kurang menarik dan berbobot. Penulis juga merasakan keterbatasan ide dan sulit untuk menyajikannya dalam bentuk tulisan yang menarik dan terkadang penulis merasa terhambat untuk menyelesaikan tulisannya. Kendala lain yang sering dirasakan adalah kwalitas tulisan mereka tulis kurang memiliki nilai jual atau tidak bersifar komersil bila di publikasikan di media masa. Oleh karena itu penulis buku ini menyampaikan berbagai cara dan proses kreatif untuk menulis di media masa. Baik dari tahap menemukan ide, mengolah gagasan, maupun menuliskannya dalam kalimat yang menarik serta menyempurnakannya hingga dapat disalurkan ke berbagai media masa.
Penulis mampu menyajikan pendapatnya tentang proses kreatif menulis, pria alumnus IAIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakultas Dakwah jurusan Ilmu Jurnalistik ini memang cermat menyajikan tahap-tahapan proses kreatif menulis. Ide-ide kreatif menulis ini mungkin didapatkannnya dari berbagai kegiatannya yang aktif di berbagai organisasi kepenulisan dan menekuni dunia jurnalistik. Sekarang pria yang menjabat sebagai ketua TEPAS Bandung ini juga telah menghasilkan beberapa karya berupa artikel maupun resensi yang telah dimuat di berbagai media.
Mengenai isi buku penulis menyajikan tahapan proses kreatif menulis di tulis secara lengkap. Baik di permulaan ia menyakinkan pembaca bahwa setiap orang memiliki potensi dan mampu untuk menulis lalu di bab pertama ia menyajikan bagamana menemukan ide untuk menulis. Ia juga memaparkan bagaimana segala sesuatu hal dapat di jadikan ide kreatif dan tehnik mengatur ide dan bagaimana mengelompokannya. Selanjutnya di bab berikutnya dipaparkan bagaimana membangun potensi diri untuk menulis dan mengamati sesutu untuk menjadikannya sebagai ide. Di buku ini juda dipaparkan bagaimana menjadi penulis yang produktif dan kreatif dengan menyajikan kiat mengembangkan kekreativitasan. Penulis juga selalu mengajak kita untuk menulis dan menulis dengan memberikan langkah-langkah dalam menulis dan mengatasi kejenuhan saat menulis. Di bab selanjutnya diberikan proses kepenulisan yang lengkap serta tips yang dilakukan guna mengatasi hambatan-hambatan dalam menulis, kiat memperlancar tulisan dan menulis dengan pemetaan pikiran serta bagaimana menata tulisan. Di bab berikutnya di tuliskan mengenai artikel, dari bagaimana memilih topik artikel, langkah kepenulisan artikeldan mengenai membuat paragraf dan membuat serta manfaat outline. Di bab terakhir bagaimana memilih judul yang menarik, bagaimana menutup tulisan dan memeriksa tulisan kita hingga memilih media masa yang tepat.
Penulis juga ingin menyampaikan bahwa semua orang mampu membuat tulisan maupun artikel. Hanya saja tinggal menggali potensi diri dan memanfaatkan waktu dan ketekunan serta mencari peluang dan menemukan kesempatan. Tuntunan menulis yang dipaparkan oleh penulis diharapkan mampu membimbing pemula untuk lebih kreatif dalam membubuhi tulisan dengan ide-ide dan gagasan yang kreatif dan berbobot.
Buku yang ditulis dengan menarik dan mampu membimbing serta mengajak kita untuk mau menulis dan memberikan inspirasi dalam menulis. Penulis juga memberikan contoh yang menarik dan membuka wawasan kita untuk menulis dan dari kalimatnya yang memaparkan secara jelas dan lugas mampu membawa kita untuk dapat merasakan bahwa mudahnya proses kreatif menulis.
Buku ini juga cocok untuk semua kalangan, baik guru, dosen pelajar dan mahasiswa maupun masyarakat umum. Buku ini ditulis untuk orang-orang yang tertarik dan berminat didunia tulis menulis. Buku yang setebal 58 halaman ini dikemas secara menarik dan dengan tampilan warna yang serasi. Dengan gambar cover sebuah komputer dengan tampilan keyboard menampilkan proses kreatif dalam menulis.
Penulis telah menyajikan proses kreatif dalam menulis dengan lengkap dan akurat namun dari segi pemanfaatan buku ini bagi pembaca terkadang kurang maksimal. Pada kenyataanya sekarang terkadang pembaca kurang mampu memaksimalkan apa yang telah dibaca serta ketidakjelasan dari maksud penulis. Terkadang pada kenyataanya pembaca hanya terjebak pada teori dan bingung mengaplikasikannya. Namun, bila dilihat dari kepenulisannya penulis mampu mengorganisasikan ide kreatifnya dengan baik pada tahap awal ia menyatakan bahwa setiap orang mampu menulis, lalu ia menyajikan juga bagaimana mencari ide dari berbagai sumber serta bagaiamana mengatur ide dan melakukan penelitian untuk proses keefektifan ide tersebut serta terus memberikan motivasi dai berbagai organisasi kalimat yang ia tuliskan. Selain itu penulis juga memberikan tahapan bagaimana membangun kreativitas sendiri dan menjadi penulis yang kreatif dan produktif, serta memmaparkan hambatan dalam proses menulis. Kemudian penulis juga menyajikan bagaiman membuat artikel yang menarik dan menyempurnakannya serta menyalurkan tulisan kita diberbagai media di yang tepat sesuai dengan apa yang kita tuliskan. Dengan kemampuan penulis memaparkan proses ide kreatif dalam menulis secara runtut seperti yang telah disajikan diatas diharapkan mampu menjadi panduan bagi kita untuk menulis.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.25
0
komentar
