aku merah delima_ berembun berlangit resah_jingga hujan mencerca. akan sisa rona yg memerah. tak asa_ menyelimuti menyinsing menghenyak biru. aku rona. rona merah delima. pewarna penyejuk bkn seperti tautan yg menyesak. aku hnya penghias ornamen ukiran warna kelabu. bukan rona baru. bukan pngiring langkahmu. aku hanya pemanismu
Kain Perca
Senin, 08 Februari 2010
Saat aku menyusuri malam
menyepi dan menyisiri jeruji barisan rambut hitamku
menetik dan merangkul kajian lelah yang tersisa
kala malam membagi warna
hitam
pelupuk
tak berurai
sendu semakin menjalar
meratapi relung-relung suka
menerka rajut-rajut angin
aku mungkin tak tahu itu
tapi ku bisa membacanya
menerawangi malam dengan alam
menetapi kaki langit dengan senyuman
adakah kau dengar?
sendu rindu semilir berputar
merajut kain-kain hitam bertabur
aku ini tak berwarna
polos dan buram
seperti kain perca yang memisah
kain sisa tak berharga
akankah kau dengar?
lau-laut malam berdenyut
mengikis kerang putih
menutupi awan kelabu dengan malam
benarkah kau dengar?
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
08.07
0
komentar
Amanat dalam Cerpen ”Ibu Pergi Sebulan”
Sabtu, 30 Januari 2010
1. Kita diajarkan untuk jangan berbohong.
Parno yang menuruti perintah ibunya untuk berbohong kepada seorag tukang kredit yang menagih tunggakan. Tarno berbohong, padahal Ibunya ada dirumah.
2. Untuk menghindari sifat boros dan mudah dipengaruhi
Bu Saiman mengambil barang-barang kepada tukang kredit, padahal barang-barang tesebut tidak begitu diperlukan.
Bu Saiman mudah terpengaruh pada tetangga yang mengambil barang-barang pada tukang kredit, sehingga ia ikut-ikutan mengambil barang-barang yang sebanarnya tidak begitu ia perlukan.
3. Agar kita disiplin dan berpikir dahulu dengan baik sebelum memutuskan sesuatu.
Bu Saiman yang tidak disiplin membayar tagihan tukang kredit tersebut sesuai waktu yang ditentukan sehingga hutangnya semakin banyak dan susah untuk dilunasi serta sikap Bu Saiman yang mengambil barang-barang pada tukang kredit tanpa berpikir terlebih dahulu.
4. Memperingatkan kepada kita agar tidak berprasangka buruk pada orang Lain
Bu Saiman berprasangka bahwa tamu yang datang tersebut adalah tukang kredit yang mau menjebak. Ia mengira bahwa tukang kredit tersebut menyamar menjadi salesman untuk mengelabui suaminya.
Bu Saiman berpikir negatif bahwa laki-laki yang datang tersebut adalah tukang kredit yang menyamar menjadi salesman.
5. Agar kita selalu ikhlas untuk memberi pertolongan
Tarno yang selalu mau menerima pemberian ibunya berupa permen kojek yang merupakan imbalan dari ibunya dan juga pemberian tukang kredit.
6. Diajarkan untuk tidak menutupi kesalahan orang lain
Pak Saiman membantu istrinya untuk menutupi kesalahan istrinya yang belum membayar hutang pada tukang kredit, sehingga mereka mengalami nasip yang kurang baik. Hal ini karena yang datang kerumah Pak Saiman sore itu bukan tukang kredit melainkan salesman yang ingin mengabarkan bahwa mereka menerima hadiah kuis berupa 1 buah televisi. Pak Saiman malah membantu istrinya dan menyuruh Tarno anaknya yang tidak tahu menahu untuk menghadapi tukang kredit tersebut.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.57
0
komentar
Transformasi Ahklak dalam Cerpen “Ibu Pergi Sebulan”
Setelah dicermati, cerpen ini mentransformasikan beberapa ayat Alquran sebagai hipogramnya. Hal itu dapat diketahui dalam uraian berikut
“Besoknya.
‘Ibunya ada, kan, Dik? Tarno Menggeleng.
“Kata Ibu, Ibu gak ada, Pak!” Tarno mengerutkan keningnya. Apa ada yang salah dengan kalimatnya, ya? Tapi, Pak tukang kredit seyum-seyum saja. Mungkin cuma perasaannya. Tarno terseyum lagi.Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Tarno berbohong, padahal Ibunya ada dirumah. Sikap tersebut bertentangan dengan yang diajarkan dalam agama hal ini sesuai dengan ayat Alquran surat Al-Maidah ayat 8 berikut ini:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Pentransformasian ayat itu sebagai hiprogramnya atau latar penciptaan cerpen ini, disamping berfungsi sebagai anjuran kepada masyarakat untuk tidak berkata bohong dan menegakkan kebenaran atau menyampaikan sesuatu sesuai keadaanya sekaligus ingin menyatakan beberapa kebohongan kecil yang tetap saja merugikan.
Selanjutnya sikap ibu Saiman ia melakukan kesalahan yaitu salahnya sendiri termakam tetangga yang yang tampak enteng saja membeli barang demi barang tiap hari, hingga ia latah membeli. Padahal banyak barang yang dibeli, tidak benar-benar dia perlukan”
Bu Saiman mudah terpengaruh pada tetangga yang mengambil barang-barang pada tukang kredit, sehingga ia ikut-ikutan mengambil barang-barang yang sebanarnya tidak begitu ia perlukan. Sehingga ia bersifat boros dan menghambur-hamburkan uang tanpa memperhatikan kebutuhan lain yang lebih penting. Hal ini bertentangan dengan yang diajarkan dalam agama hal ini sesuai dengan ayat Alquran surat Al-Isra ayat 24 berikut ini:
Artinya:
“Dan berikanlah kepadamu keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”
Pentransformasian ayat itu sebagai hiprogramnya atau latar penciptaan cerpen ini, disamping berfungsi sebagai anjuran kepada orang lain untuk tidak bertindak boros karena nantinya sifat tersebut akan merugikan diri sendiri.
Saiman berprasangka bahwa tamu yang datang tersebut adalah tukang kredit yang mau menjebak. Ia mengira bahwa tukang kredit tersebut menyamar menjadi salesman untuk mengelabui suaminya.
Bu Saiman, perempuan berumur empat puluh tahun itu, jadi mangkel setengah mati. Tukang kredit itu kan mestinya dihindari bukan disuruh masuk! Tumben lagi datang sore-sore. Biasanya kan pagi? Pasti mau menjebak! Batin perempuan berprasangka”. Bu Saiman berpikir negatif bahwa laki-laki yang datang tersebut adalah tukang kredit yang menyamar menjadi salesman. Bu Saiman berprasangka buruk hal ini bertentangan dengan agama hal ini berdasarkan ayat Alquran Al-Zalzalah 8:
Artinya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”
Pentransformasian ayat itu sebagai hiprogramnya atau latar penciptaan cerpen ini, disamping berfungsi sebagai anjuran kepada masyarakat untuk tidak menilai sesuatu berdasarkan penampilan luarnya saja atau dari satu segi yang memiliki pengaruh besar tanpa memperhatikan dari berbagai pandangan maupun hal-hal lain yang berkaitan ternyata hal tersebut merugikan diri kita sendiri.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.55
0
komentar
Sudut Pandang
Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya adalah sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini harus dibedakan dengan pandanga pengarang sebagai pribadi, sebab sebuah cerpen atau novel sebenarnya adalah pandanag pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang jelas akan masuk ke dalam karyanya. Dan ini lazim disebut gaya pengarang. Adapun sudut pandang menyangkut teknis bercerita saja, yaitu soal bagaimana pandangan pribadi pengarang akan dapat diungkapkan sebaik-baiknya. Sudut pandang menyaran pada sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams, 1981:142). Adapun Pooley menyatakan bahwa:
Point of view is the opinion of an author toward his characters, events and setting as expressed in the literary itself (1964:723).
Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya meruipakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Sudut pandang bagaimanapun merupan sesuatu yang menyaran pada maslah teknis, saran untuk menyampaikanmaksud yang lebih besar daripada sudut pandang itu sendiri. Sudut pandang merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk ddapat sampai dan berhubungan dengan pembaca (Booth, dalam Stevict, 1967:89). Dengan teknik yang dipilihnya itu diharapkan pembaca dapat menerima dan menghayati gagasan-gagasannya, dan karenanya teknik itu boleh dikatakan efektif.
Sudut pandang cerita itu sendiri dapat secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam: persona pertama, first-person, gaya “aku”, dan persona ketiga, third-person, gaya “dia”. Jadi dari sudut pandang “aku” atau “dia” dengan berbagai variasinya, sebuah cerita dikisahkan. Kedua sudut pandang tersebut nasing-masing menyaran dan menuntut konsekuensinya sendiri. Oleh karena itu, wilayah kebebasan dan keterbatasan perlu diperharikan secara objektif sesuai dengan kemungkinan yang dapat dijangkau sudut pandang yang dipergunakan. http://74.125.153.132/search?q=cache:8T2HDDmQH_gJ:kholiq.staff.gunadarma.ac.id/Publications/files/317/TG2.doc+jenis-jenis+sudut+pandang+dalam+novel&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id
Sudut Pandangan Tokoh
Diantara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adalah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.
Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:
1. Sudut pandangan orang pertama.
Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
2. Sudut pandang orang ketiga,
biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
3. Sudut pandang campuran,
di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.
4. Sudut pandangan yang berkuasa.
Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui. http://ekohm.multiply.com/journal/item/1000/cerpen
Sudut Pandang yang terdapat dalam Cerpen Koran
1. Sudut Pandang Orang Pertama
Pengarang menggunakan sudup pandang ”aku”.
Aku mencintai koran. Bagiku koran menjadi pusat informasi. Semua berita, semua daerah, nyaris tidak ada yang luput dari berita koran. Kalau aku ingin tahu apa yang terjadi dimana, cukup memanggil loper koran, menyerahkan selembar uang ribuan, lalu asyik berjama-jam berkeliling ke berbagai daerah yang diberitakan. Ya seperti itu.
Dari keseluuhan cerita menggunakan sudut pandang aku.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.46
0
komentar
Cerpen : Koran
Tema : Menyukai sesuatu terlalu berlebihan biasanya dapat membuat kita kecewa dan dapat pula untuk membencinya
Sinopsis Cerita
Udin adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai guru madrasah. Ia tinggal dan kos di Jakarta, bersama Mas Parjo teman sekamarnya, yang merupakan seorang tukang bakso. Udin memiliki hobi yang unik, walaupun ia hanya rakyat kecil, dan seorang pemuda biasa yang miskin. Ia sangat mencintai koran. Ia selalu membaca koran setiap hari, baik koran yang terbit pagi maupun sore. Terkadang Udin mendapat ejekan dari teman-temannya, “kenapa wong cilik kayak kamu , sok baca koran din’ ejek teman-temannya. Bang Sani yang merupakan tukang parkir di pasar, juga sering mengejeknya, termasuk Bang Japra preman di daerah bongkaran Tanah Abang. Bahkan, sampai sang loper koran tak pernah sekali pun melupakan Udin, langganan tetapnya. Udin tetap tidak perduli, ia makin menyukai membaca koran karena dengan membaca koran Udin merasa terhibur dan menjadi orang yang cerdas. Mas Parjo dan teman-temannya juga tetap menasihati untuk tidak terlalu mencintai koran seperti itu. Mas Parjo dan teman-temannya juga suka membaca koran, tetapi tidak seperti Udin. Mereka berkata membaca koran terkadang isinya juga yang itu-itu saja, dimulai naiknya tarif listrik, telepon, air bahkan mengenai BBM.
Tetapi, suatu ketika betapa terkejutnya Udin, saat ia membaca halaman koran. Ia menemukan berita, bahwa ada seorang gurud SD di Bogor di keroyok massa karena mencabuli anak didiknya. Udin sangat terkejut, karena ternyata guru tersebut adalah teman sekelasnya saat ia masih dalam pendidikan SPG dulu. Semenjak itu, Udin menjaga jarak dengan koran sudah lama ia tidak membaca halaman koran lagi. Ia merasa sedikit kecewa karena ia mendengar kabar yang buruk itu dari koran. Kemudian suatu ketika Mas Parjo memberikan koran pada Udin, dan dengan berat hati Udin membacanya. Kemudian ia menemukan berita yang sangat mengejutkan terjadi keributan antar preman dan hal itu menyebabkan seorang preman tewas di bacok. Setelah diketahui preman itu adalahg Bang Japra.
Setelah lama dari peristiwa itu Udin memberanikan diri membaca koran dan betapa terkejutnya ia setelah membaca berita ada seorang buronan yang terkait jaringan pembomman di Masakssar. Setelah di usut ternyata buronan tersebut adalah Bang Sani, tukang parkir di pasar. Udin semakin kecewa dan memusuhi koran, sudah 3 bulan ia tidak membaca koran lagi. Dan terakhir Udin membaca koran, karena ia mencemaskan Mas Parjo yang semalam tidak pulang. Ia panik dan takut terjadi apa-apa dengan Mas Parjo. Udin membaca koran pagi, dan akhirnya ia menemukan berita yang sangat tidak ia duga sebelumnya. Di halaman sembilan ia membaca dan menemukan nama Emak dan adik-adiknya didalam koran tersebut, mereka terdaftar sebagai korban tanah longsor, dua hari yang lalu.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.44
0
komentar
Semiotika
Cerpen “Guru”
1. Kronologis Cerita
Cerpen “Guru” terdiri atas sepuluh peristiwa yag berurutan secara kronologis sebagai berikut:
Pada bagian ke-1, digambarkan seorang laki-laki yang berhenti dipinggir jalan dan melangkah menuju ke sebuah kuburan. Ia melihat-lihat dan berhenti di sebuh makam. Kemudian ia menyapa seorang lelaki dan ia hendak meminjam cangkul dan parang untuk membersihkan sebuah makan. Lelaki yang satunya tidak percaya pada seseorang laki-laki yang asing baginya. Ia merasa tidak mengenal laki-laki itu dan ia hendak meminjam sebauh cangkul dan parang.
Pada bagian ke-2, digambarkan laki-laki itu akhirnya meminjamnya cangkul dan mparang, karena ia hendak membersihkan sebuah makam yang memang tidak pernah dibersihkan sebelumnya. Makam itu tampak penuh dengan rumput. Lelaki itu mengatakan pada prias asing itu, bahwa makan itu tidak pernah diurus dan tidak ada yang pernah datang kemari. Tetapi lelaki itu mengatakan bahwa itu adalah makam leluhurnya dan memang semua saudaranya tinggal di Jakarta jadi tidak ada yang bisa merawatnya. Tetapi pada kenyataannya ia masih memiliki kerabat di kota Medan. Memang mungkin sebenarnya tidak ada yang perduli dengan makan itu.
Pada bagian ke-3, digambarkan setelah membersihkan makan itu, lelaki asing tadi pergi meninggalkan makam dan ia menghidupkan mobilnya dan menyusuri jalan. Ia melewati jalan-jalan yang mengingatkan pada masa lalunya dulu. Ia melewati Sigumpar desa leluhurnya dan kemudian desa Laguboti.
Pada bagian ke- 4 digambarkan pada saat ia tiba di desa Tambunan ia dihentikan oleh dua orang tentara. Lalu tentara itu menanyakan tujuan laki-laki itu. Sebenarnya ia hendak ke Balige, dan tentara itu melarang untuk menuju Tarutung karena disana ada kerusuhan.
Pada bagian ke-5, digambarkan laki-lai itu tiba di Balige, ia menuju pasar dan membeli kacang tanah yang sudah dimatangkan. Kemudian ia membelokan mobilnya ke tepi danau. Ia berhenti di sebuah rumah petak dan halamannya luas, serta rumah itu hanya 50 meter dari pantai danau.
Pada bagian ke-6, digambarkan laki-laki itu teringat akan masa lalunya dulu, memperhatikan daerah sekitar sehingga mengingatkan kala ia memancing ikan, menari rumput danau. Kemudian ia meraskan banyak perubahan di daerah sekitar, karena yang dulunya rumpun-rumpun bambu yang mengitari daerah sekitar, kini telah berganti menjadi tembok-tembok yang besar.
Pada bagian ke-7, digambarkan bahwa laki-laki itu ingat pada waktu kecil ia sering mendaki dan menyusuri kaki bulit Gunung Tolong, ia ingat pula pada Sekolah Rakyat (SD) tempat ia bersekolah dulu. Masih ingat dalam ingatan, gurunya dulu yang mengajari mereka mengarang adalah Bu Naomi, serta kenangan-kenangan indah lainnya.
Pada bagian ke-8, digambarkan bahwa laki-laki itu pergi menuju rumah itu, dan ia bertemu dengan seorang Ibu yang sebaya dengannya muncul. Laki-laki itu memperkenalkan diri, namanya adalah Togar dan ia mengatakan bahwa ia dulu pernah tinggal dirumah ini. Kemudian ia menyatakan bahwa ini dulu rumah keluarga Napitupulu. Ibu tersebut mengatakan bahwa itu rumah orang tuanya. Togar mengatakan bahwa dari Jakarta dan ia kangen dengan kota ini, ia mengatakan bahwa disini banyak sekali perubahan.
Pada bagian ke-9, digambarkan Setelah lama berbincang, kemudian muncul seorang ibu yang berusia lanjut. Ibu yang tadi memperkenalkan bahwa wanita itu adalah ibunya. Wanita tua itu menyuruh anaknya mengambilkan minuman untuk tamu mereka. Kemudian wanita itu berbincang-bincang dengan Togar. Togar mengatakan bahwa dulu ia pernah tinggal disni sekitar 50 tahun yang lalu. Wanita tua itu menanyakan nama laki-laki yang bertamu dirumahnya dan laki-laki itu mengatakan namanya adalah Togar Parulian.
Pada bagian ke-10, digambarkan wanita itu bercerita bahwa sebelum ia pensiun. Ia telah membaca buku, yang ia rasa ia kenal pengarangnya, dari kosa katanya dan sudah berkali-kali ia membacakan cerita itu didepan kelas serta memberitahukan pada teman-temannya bahwa ia mengenal pengarang buku itu. Tetapi tidak ada yang percaya, namun ternyata perkataan ibu yang telah lanjut usia itu benar. Bahwa yang mengarang buku yang di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan sisebarkan di seluruh SMA di Indonesia itu di tulis oleh Togar Parulian muridnya.
Pada bagian ke-11, digambarkan wanita itu memeluk muridnya, ia amat bangga pada muridnya yang telah sukses dan berhasil. Togar sekarang menjadi seorang dosen dan menulis tulisan di berbagai media massa. Betapa senangnya hati wanita itu sebelum ia tutup usia ia bisa melihat muridnya yang sukses dan ia sangat berterima kasih.
2. Ajaran Akhlak dalam Cerpen
1. Bersikap ramah dan sopan. Sikap seorang lelaki yang tidak baik pada Togar saat ia hendak meminjam cangkul dan parang. Hal ini tergambar dari kutipan berikut
“Apa urusanmu dengan makam itu?” tanya lelaki diatas tangga sambil meletakan tikar anyamannya.
Dari kutipan tersebut sikap lelaki itu yang kurang sopan pada seseorang lelaki, karena ia tidak mengenal lelaki itu.
2. Bersikap Baik.
Sikap lelaki yang pada awalnya tidak mau meminjamkan parang dan cangkulnya pada seseorang lelaki asing yang ia tidak kenal. Hal ini tergambar dari kutipan berikut:
Lelaki itu masukd dan kemudian muncul dengan membawa cangkul dan parang. Ia turun dari tangga. Diserahkannya kedua alat itu kepadaku.
Dari kutipan tersebut terlihat sikap lelaki yang kurang baik, ia baru meminjamkan parang dan cangkul setelah laki-laki itu menceritakan tentang keluarganya.
3. Untuk tidak Melupakan Kampung Halaman dan Leluhur Kita.
Makam itu tidak diperhatikan oleh keluarganya yang masih hidup. Hal ini tergambar
dari kutipan berikut:
“Sudah lama makam itu terlantar. Mengapa keluargamu tidak ada yang peduli? tanyanya. “Kami turunannya sudah hampir semua merantau ke Pulau Jawa.” jawabku. “Lelaki itu mengganguk-angguk, “O, jadi kau dari Jakarta itu? Bukanlah kerabatmu ada yang di Medan? Kalian memang tidak ada yang peduli kepada leluhur kalian.
Dari kutipan tersebut terliaht sifat keluarga yang tidak perduli dengan makam leluhurnya dan lelaki itu tidak lupa dengan kampung halamannya dengan mengunjungi lagi kota tempat masa kecilnya.
4. Agar kita tidak lupa dengan seseorang yang pernah berjasa pada diri kita.
Togar yang kembali menuju kampung halamannya. Lalu ia ingat bahwa dulu yang menjadi guru mengarangnya adalah Bu Naomi. Hal ini tergambar
dari kutipan berikut:
Berjam-jam kami menatap pemandangan alam yang menakjubkan. Dan hal itu kutuangkan dalam kelas karang mengarang yang diasuh Ibu Naomi.
Ibu itu melepaskan pelukannya dan matanya berkaca-kaca. “Aku amat bangga, sebelum aku tutup usia, aku melihat seorang muridku berhasil.
Togar yang memang merindukan kampung halamannya dan mengunjungi rumah kampung halamannya yang dulu tidak sengaja bertemu dengan gurunya. Ternyata hal seperti itu dapat membuat gurunya merasa bangga dan bahagia.
3. Transformasi Ahklak dalam Cerpen
Setelah dicermati, cerpen ini mentransformasikan beberapa ayat Alquran sebagai hipogramnya. Hal itu dapat diketahui dalam uraian berikut
Dari kutipan :
Lelaki itu masuk dan kemudian muncul dengan membawa cangkul dan parang. Ia turun dari tangga. Diserahkannya kedua alat itu kepadaku.
Pada awalnya laki-laki itu tidak mau meminjamkan cangkul kepada orang itu, namun setelah bertanya dan oarng itu ia menceritakan tentang keluarganya baru ia meminjamkan cangkul tersebut.
Sikap tersebut harusnya sesuai dengan yang diajarkan dalam agama hal ini sesuai dengan ayat Alquran ayat Alquran Al-Zalzalah 8:
Artinya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”
Pentransformasian ayat itu sebagai hiprogramnya atau latar penciptaan cerpen ini, disamping berfungsi sebagai anjuran kepada masyarakat untuk tidak menilai sesuatu berdasarkan penampilan luarnya saja atau dari satu segi yang memiliki pengaruh besar tanpa memperhatikan dari berbagai pandangan maupun hal-hal lain, tetapi kita di ajarkan untuk berbuat baik kepada sesama.
Selanjutnya agar kita disarankan untuk tidak melupakan masa lalu atau orang yang telah berjasa pada diri kita dan tidak boleh terlalu membanggakan diri atas kesuksesan diri kita. Hal ini tercermin dari kutipan:
Berjam-jam kami menatap pemandangan alam yang menakjubkan. Dan hal itu kutuangkan dalam kelas karang mengarang yang diasuh Ibu Naomi.
Ibu itu melepaskan pelukannya dan matanya berkaca-kaca. “Aku amat bangga, sebelum aku tutup usia, aku melihat seorang muridku berhasil.
Hal ini ditransformasikan dari ayat Alquran Al-Kahfi (18) ayat 4 dan surat Al-Anfal (8) ayat 28 berikut ini:
Artinya:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebihbaik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
Artinya:
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar.
Pentransformasian ayat itu sebagai hiprogramnya atau latar penciptaan cerpen ini, disamping berfungsi sebagai anjuran kepada masyarakat untuk agar kita sebagai manusia tidak boleh lupa diri dan harus kembali mengingat apa yang telah membantu kita, serta kita hasru memperhatikan orang-orang sekitar kita yang telah berjasa.
Diposting oleh
neng 'gelis Fransori
di
20.42
1 komentar
